Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Pelajar SMA Tewas Usai Dihajar Senior Saat Pelonco


Seorang pelajar laki-laki di Thailand yang bulan lalu sempat terbaring koma diduga karena dianiaya saat menjalani masa orientasi sekolah, dinyatakan meninggal pada Kamis (18/7) kemarin. Hal ini menjadi sorotan karena budaya pelonco dengan kekerasan masih terjadi di dunia pendidikan Negeri Gajah Putih.

Mendiang yang bernama Nakhon Pathom dilaporkan ditendang di bagian dada oleh tiga kakak kelasnya ketika sedang dipelonco di sekolah barunya. Akibatnya, siswa berusia 15 tahun itu mengalami koma sejak bulan lalu.
Menurut laporan kepolisian Thailand, ketiga pelaku yang sebelumnya didakwa atas tindak penyerangan akan dijatuhi dakwaan yang lebih berat.

"Dakwaan itu termasuk percobaan pembunuhan," demikian pernyataan Letnan Kolonel Pinyo Musiksan, seperti dilansir AFP, Jumat (19/7).


Dua di antara ketiga siswa senior itu akan diadili di pengadilan remaja, mengingat usia mereka yang masih di bawah 18 tahun. Ketiga siswa tersebut juga sementara ini bebas dengan jaminan.

Insiden tewasnya Pathom sontak meningkatkan kekhawatiran akan budaya perpeloncoan di kebanyakan lembaga pendidikan Thailand.
Perpeloncoan yang kerap dilakukan di beberapa lembaga di Thailand itu berdasarkan pada asas SOTUS, yakni Senioritas, Ketertiban, Tradisi, Persatuan, dan Semangat.

Ritual tersebut merupakan hal yang biasa diterapkan setiap tahunnya di perguruan tinggi, sekolah kejuruan, sekolah menengah, bahkan di akademi militer.

Kegiatan itu akan menguji ketangguhan murid-murid junior dari segi mental dan fisik mereka, seperti membawa barang-barang milik kakak kelas, terkadang ada pula yang berdampak pada cedera serius, dan dampak yang paling ekstrem adalah menyebabkan kematian.

Sebuah kelompok anti perpeloncoan mencatat setiap tahunnya, rata-rata ada 250 kasus perpeloncoan di sejumlah lembaga pendidikan Thailand, di mana hanya kasus yang paling parah yang akan diangkat ke permukaan untuk diusut.
Pada 2017 lalu, insiden serupa juga sempat dialami seorang taruna militer berusia 18 tahun di mana pihak keluarga menemukan bahwa organ putra mereka telah dikeluarkan dari tubuhnya. Kasus ini pun menggemparkan warga Thailand.

Meski begitu, pihak institusi militer tersebut bersikeras bahwa pihaknya tak bersalah. Menurut mereka, taruna angkatan pertama itu meninggal akibat gagal jantung yang dialaminya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025