Harga Emas Naik pada Perdagangan Kamis (5/3/2026) Pagi

  Harga emas melanjutkan kenaikan pada perdagangan Kamis (5/3/2026) pagi. Pukul 07.47 WIB, harga emas untuk pengiriman April 2026 di Commodity Exchange ada di US$ 5.182,30 per ons troi, naik 0,93% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 5.134,70 per ons troi. Harga emas kembali naik setelah sempat jeda koreksi. Para pembeli memanfaatkan penurunan harga untuk kembali masuk ke pasar di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik di Timur Tengah . Mengutip Bloomberg , harga emas telah naik sekitar 20% tahun ini, dan mencapai level tertinggi sepanjang masa di atas US$ 5,595 pada akhir Januari. Tingginya permintaan yang didukung oleh ketegangan geopolitik dan kekhawatiran tentang independensi Federal Reserve mendorong kenaikan harga emas. Peter Kinsella , kepala strategi forex global di UBP SA mengatakan, penurunan tajam dan taruhan bullish hedge fund dan manajer investasi seharusnya membatasi penurunan harga emas. "Saya pikir kita pasti akan melihat pemulihan harga emas,...

BI Ramal Neraca Pembayaran Kuartal II 2019 Surplus US$3 M


1.       Bank Indonesia (
BI) memprediksi neraca pembayaran pada kuartal II 2019 bisa mencatatkan surplus US$3 miliar. BI memperkirakan neraca modal dan finansial bisa menutupi kinerja transaksi berjalan yang masih akan defisit hingga akhir Juni.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan hal ini terkonfirmasi dari aliran modal masuk ke Indonesia hingga 4 Juli 2019 yang mencapai Rp170 triliun secara tahun kalender (year-to-date). Angka itu terdiri dari atas transaksi saham senilai Rp71,5 triliun dan Rp98,5 triliun ke transaksi Surat Berharga Negara (SBN).

"Ini juga termasuk dengan dua lelang terakhir SBN yang mencatat kelebihan penawaran (oversubscribe), sehingga ada kepercayaan pasar dan investor terhadap prospek dan kebijakan ekonomi Indonesia. Kami perkirakan neraca pembayaran bisa mencapai US$3 miliar di kuartal II 2019," tutur Perry, Jumat (5/7).
Kendati demikian, ia menyebut angka tersebut masih perkiraan sementara. Bank sentral masih menghitung secara pasti defisit transaksi berjalan setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Juni pada 15 Juli 2019 nanti. Namun, sepanjang kuartal II 2019, neraca perdagangan Indonesia defisit US$2,3 miliar.

"Meski defisit transaksi berjalan kuartal I secara musiman naik paling tinggi antar tahun, tapi perkiraan kami angka tersebut akan lebih rendah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) di akhir tahun," jelas dia.
Namun menurutnya, ia masih tetap optimis angka neraca pembayaran bisa sesuai estimasi setelah melihat posisi cadangan devisa akhir Juni lalu yang tercatat US$123,8 miliar atau membaik dibanding bulan sebelumnya US$120,3 miliar. Jika estimasi ini tepat, Perry juga menyebut surplus neraca pembayaran kuartal II akan lebih besar dari kuartal I yakni US$2,41 miliar.

"Tapi, surplus neraca modal dan finansial lebih tinggi dari defisit transaksi berjalan sehingga secara keseluruhan neraca pembayaran akan surplus," pungkas dia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025