Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

BI Ramal Neraca Pembayaran Kuartal II 2019 Surplus US$3 M


1.       Bank Indonesia (
BI) memprediksi neraca pembayaran pada kuartal II 2019 bisa mencatatkan surplus US$3 miliar. BI memperkirakan neraca modal dan finansial bisa menutupi kinerja transaksi berjalan yang masih akan defisit hingga akhir Juni.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan hal ini terkonfirmasi dari aliran modal masuk ke Indonesia hingga 4 Juli 2019 yang mencapai Rp170 triliun secara tahun kalender (year-to-date). Angka itu terdiri dari atas transaksi saham senilai Rp71,5 triliun dan Rp98,5 triliun ke transaksi Surat Berharga Negara (SBN).

"Ini juga termasuk dengan dua lelang terakhir SBN yang mencatat kelebihan penawaran (oversubscribe), sehingga ada kepercayaan pasar dan investor terhadap prospek dan kebijakan ekonomi Indonesia. Kami perkirakan neraca pembayaran bisa mencapai US$3 miliar di kuartal II 2019," tutur Perry, Jumat (5/7).
Kendati demikian, ia menyebut angka tersebut masih perkiraan sementara. Bank sentral masih menghitung secara pasti defisit transaksi berjalan setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Juni pada 15 Juli 2019 nanti. Namun, sepanjang kuartal II 2019, neraca perdagangan Indonesia defisit US$2,3 miliar.

"Meski defisit transaksi berjalan kuartal I secara musiman naik paling tinggi antar tahun, tapi perkiraan kami angka tersebut akan lebih rendah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) di akhir tahun," jelas dia.
Namun menurutnya, ia masih tetap optimis angka neraca pembayaran bisa sesuai estimasi setelah melihat posisi cadangan devisa akhir Juni lalu yang tercatat US$123,8 miliar atau membaik dibanding bulan sebelumnya US$120,3 miliar. Jika estimasi ini tepat, Perry juga menyebut surplus neraca pembayaran kuartal II akan lebih besar dari kuartal I yakni US$2,41 miliar.

"Tapi, surplus neraca modal dan finansial lebih tinggi dari defisit transaksi berjalan sehingga secara keseluruhan neraca pembayaran akan surplus," pungkas dia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)