Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Moeldoko Sebut Diversifikasi Bisa Kerek Harga Minyak Sawit


Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menilai diversifikasi penggunaan minyak kelapa sawit dapat menjadi solusi untuk menahan pelemahan harga di pasar global. Maka itu, pemerintah terus mendorong penggunaan minyak sawit mentah (CPO) untuk diolah menjadi bahan bakar nabati (BBN).

Harga CPO cenderung merosot sejak tahun lalu, disebabkan oleh melimpahnya stok minyak nabati dan perlambatan ekonomi global. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI) mencatat rata-rata harga CPO global sepanjang 2018 berada di kisaran US$595,5 per MT atau merosot 17 persen dibandingkan rata-rata harga 2017 yang sebesar US$714,3 per MT.

"Kalau ada diversifikasi penggunaannya, maka harga menjadi baik," ujar Moeldoko saat menghadiri Pengukuhan Pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) di Jakarta, Selasa (9/7).


Salah satu bentuk diversifikasi yang telah dilakukan pemerintah adalah menjalankan program mandatori campuran biodiesel pada minyak solar sebesar 20 persen (B20). Pemanfaatan minyak kelapa sawit sebagai BBN akan terus dikembangkan hingga 100 persen bisa diolah menjadi bahan bakar mesin diesel (D100).
"Upaya pemerintah untuk menuju B20 melangkah lagi B50 dan D100 sangat serius," ujarnya.

Pria yang juga merangkap sebagai Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) itu mengungkapkan pembukaan pasar baru menjadi salah satu cara untuk mengerek harga. Pasalnya, menurut Moeldoko, penurunan harga minyak kelapa sawit tak lepas dari keseimbangan antara penawaran dan permintaan.

"Pemerintah berusaha semaksimal mungkin untuk mencari terobosan-terobosan, mencari negara tujuan pasar dengan dicarikan alternatif, sehingga harapan kami ada pasar-pasar baru," ujarnya.

Lebih lanjut, Moeldoko mengingatkan industri sawit memiliki peran yang penting bagi perekonomian. Industri ini mampu menyerap 4,2 juta lapangan kerja langsung dan 12 juta lapangan kerja tidak langsung.
"Ada 20 juta rumah tangga petani bergantung pada sektor sawit dan dari sisi provinsi ada 22 provinsi yang terlibat secara langsung," ujarnya.

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono mengungkapkan harga minyak sawit kelapa sawit mentah saat ini masih bertengger di kisaran US$500 per metrik ton (MT).

Melihat kondisi itu, asosiasi mendukung upaya pemerintah untuk mendorong permintaan minyak kelapa sawit di dalam negeri melalui diversifikasi penggunaan ke sektor energi.

Di saat yang sama, pengusaha sawit saat ini juga berupaya untuk membuka pasar baru untuk produk kelapa sawit. Beberapa di antaranya ke Timur Tengah dan Afrika.

"Potensi pasar ke Timur Tengah dan Afrika mungkin bisa mencapai 1 juta ton (CPO)," ujarnya.

Namun, upaya membuka pasar baru itu tak mudah. Misalnya, minimnya keberadaan tangki timbun di negara-negara Afrika membuat ekspor kelapa sawit harus sudah diolah dan dikemas.

"Untuk ekspor ke Timur Tengah, masalahnya ada bagaimana kita bisa meningkatkan kerja sama bilateral," ujarnya.

Sebagai informasi, berdasarkan penetapan Kementerian Perdagangan (Kemendag), harga Crude Palm Oil (CPO) untuk penetapan Bea Keluar (BK) periode Juli 2019 adalah US$542,45 per MT. Harga referensi tersebut melemah US$4,72 atau 0,86 persen dari periode Juni 2019, sebesar US$547,17/MT.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)