Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Sentuh Rp14.402 per Dolar AS, Rupiah Melemah Terburuk di Asia


Sentuh Rp14.402 per Dolar AS, Rupiah Melemah Terburuk di Asia Ilustrasi rupiah. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.402 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot sore ini, Rabu (5/12). Posisi ini kembali melemah 111 poin atau 0,78 persen dari kemarin sore, Selasa (4/12) di Rp14.292 per dolar AS.

Berdasarkan kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.382 per dolar AS atau melemah dari kemarin di posisi Rp14.293 per dolar AS.

Di kawasan Asia, rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam terhadap dolar AS. Pelemahan rupiah diikuti won Korea Selatan minus 0,77 persen dan renminbi China minus 0,41 persen.



Lalu, peso Filipina minus 0,33 persen, yen Jepang minus 0,2 persen, ringgit Malaysia minus 0,18 persen, dolar Singapura minus 0,16 persen, dan dolar Hong Kong minus 0,09 persen. Hanya baht Thailand yang berhasil berada di zona hijau dengan menguat 0,05 persen dari dolar AS. Sementara rupee India stagnan.

Begitu pula dengan mata uang utama negara maju, mayoritas bersandar di zona merah. Dolar Australia melemah 0,57 persen, dolar Kanada minus 0,19 persen, franc Swiss minus 0,16 persen, dan euro Eropa minus 0,06 persen. Namun, rubel Rusia mampu menguat 0,22 persen dan poundsterling Inggris 0,06 persen dari dolar AS.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan pergerakan rupiah bersama mayoritas mata uang Asia yang melemah terhadap dolar AS terjadi karena pasar mendadak pesimis dengan kondisi ekonomi ke depan.



Menurut dia, pasar khawatir lantaran proyeksi perekonomian untuk tahun depan belum ada perubahan, yakni kecenderungannya bakal lebih rendah ketimbang tahun ini.

"Hal ini langsung membuat beberapa mata uang bergerak liar, misalnya euro Eropa dan poundsterling Inggris yang tadinya menguat, langsung berbalik melemah tajam," katanya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (5/12).

Lebih lanjut, ia bilang, kekhawatiran pasar kian menjadi lantaran meragukan sinyal perdamaian antara AS dengan China. Pasalnya, meski kedua pimpinan negara sepakat menangguhkan perang dagang, namun sejatinya belum juga ada kepastian damai, khususnya dari AS.



"Trump tidak bilang akan membatalkan secara gamblang, ini juga tidak mengindikasikan dia akan mengalah," terangnya.

Di sisi lain, ada sentimen dari sikap antisipasi pasar terhadap pengambilan keputusan suara dari parlemen Inggris terkait langkah keluarnya negara tersebut dari zona Uni Eropa (Britania Exit/Brexit).

"Ada kemungkinan ditunda sepihak. Kalau ini terjadi, dampaknya bukan hanya ke Inggris dan Uni Eropa, namun juga ke mata uang negara lain," ujarnya.

Dini melihat sejumlah sentimen ini masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Dengan begitu, ia memperkirakan pergerakan rupiah akan tertekan pula. Proyeksinya, rupiah bergerak di kisaran Rp14.100-14.550 per dolar AS pada esok hari.sumber:cnnindonesia.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini