Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Kemenkeu Proyeksi Ekonomi Tumbuh 0,31 Persen di Kuartal IV

 

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2020 kembali positif di kisaran 0,31 persen. Namun, secara keseluruhan laju ekonomi tahun ini masih terkontraksi. 

Proyeksi itu juga jauh di bawah periode yang sama tahun lalu, 4,97 persen.

Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo mengungkapkan pemerintah akan lebih fokus mengoptimalkan upaya mendorong ekonomi pada kuartal IV. Pasalnya, ekonomi diperkirakan masih tumbuh negatif di kisaran 3 persen pada kuartal III.

"Kami berharap kuartal IV akan tumbuh positif meski tipis, prediksinya 0,31 persen. Secara keseluruhan, 2020 kita masih akan tumbuh negatif," katanya pada Diskusi Online bertajuk Resesi dan Percepatan Pemulihan Ekonomi, Rabu (4/11).

Sebagai informasi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memastikan bahwa Indonesia akan masuk ke jurang resesi dengan kontraksi dua kuartal secara terturut-turut.

Pada Kuartal II lalu, Indonesia mencatatkan pertumbuhan negatif sebesar 5,32 persen. Pengumuman resmi baru akan disampaikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Kamis (5/11) besok.

Oleh karena itu, Yustinus menyebut fokus pemerintah ialah mengungkit pertumbuhan kuartal terakhir 2020 dan 2021 mendatang. Salah satu yang akan menjadi fokus pemerintah adalah reformasi di bidang kesehatan.

"Mendukung peningkatan pengadaan faskes, alkes, dan mendorong kualitas nakes, dan sebagainya," lanjutnya.

Kemudian, melakukan transformasi pendidikan dengan meningkatkan layanan jaringan, perangkat, dan kualitas guru. Berikutnya, adalah layanan digital, dari alat komunikasi dalam meningkatkan layanam publik hingga mendorong digitalisasi pelaku UMKM.

Di kesempatan sama, ia juga menyampaikan bahwa pemerintah tak takut dikritik. Bahkan, dia meminta publik untuk mengkirtik 'sepedas-pedasnya' demi memastikan pengawasan publik berjalan baik.

"Mudah-mudahan dengan dukungan berbagai pihak termasuk kritik sekeras-kerasnya, bantuan sebanyak-banyaknya, ini sangat penting untuk pemerintah," pungkas Yustinus.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini