Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Grab Suntik LinkAja US$100 Juta Bareng 3 Investor Lokal

 

Grab bersama tiga investor lokal, yakni Telkomsel, BRI Ventura Investama, dan Mandiri Capital Indonesia, menyuntikkan dana segar US$100 juta kepada PT Fintek Karya Nusantara atau LinkAjaSuntikan dana tersebut bagian dari sesi pendanaan seri B.

Direktur Utama LinkAja Haryati Lawidjaja tidak menyebut pasti berapa dana yang dikeluarkan oleh masing-masing perusahaan tersebut.

Yang pasti, ini pertama kalinya LinkAja mendapatkan pendanaan dari perusahaan swasta, yakni Grab.

Nantinya, dana segar ini akan digunakan untuk mengakselerasi pertumbuhan LinkAja menjadi pemimpin teknologi finansial nasional yang mengutamakan konsumen kelas menengah dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

"Kami sangat antusias atas bergabungnya Grab sebagai salah satu pemegang saham kami. Kami yakin kerja sama strategis yang didukung oleh investasi dan kekuatan teknologi Grab ini akan memperkuat layanan LinkAja dalam menghadirkan solusi yang efektif untuk memberikan akses ke keuangan dan ekonomi bagi masyarakat Indonesia," papar Haryati dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (11/11).

Dalam pendanaan ini, Credit Suisse dan Hiswara Bunjamin & Tandjung bertindak sebagai lembaga eksklusif penempatan dana dan penasihat hukum untuk LinkAja. Sementara, Hadiputranto, Hadinoto & Partners bertindak sebagai penasihat hukum untuk Grab.

Haryati menjelaskan LinkAja mulai beroperasi pada 30 Juni 2019 lalu. Sejak awal, perusahaan memang fokus terhadap konsumen kelas menengah dan UMKM di Indonesia.

Sejauh ini, ada lebih dari 58 juta pengguna LinkAja. Sebagian besar atau 80 persen pengguna berasal dari kota-kota tingkat 2 dan 3 di Indonesia.

Haryati menuturkan nilai transaksi lewat LinkAja terus meningkat selama masa pandemi covid-19 atau virus corona. Hal ini merupakan bukti bahwa manajemen bertahan dengan model bisnis yang dibangun sejak awal.

"Di tengah tantangan ekonomi selama pandemi covid-19, LinkAja mampu meningkatkan nilai transaksi bruto (GTV) dan jumlah transaksi pada kuartal 3 2020 sebesar 3 kali dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya," terang Haryati.

Sementara, Managing Director of Grab Indonesia Neneng Goenadi mengatakan Grab berkomitmen untuk membantu pertumbuhan ekosistem perusahaan rintisan (startup) di Indonesia. Grab memilih berinvestasi di LinkAja demi menaikkan tingkat inklusi finansial di Indonesia.

Sebab, uang tunai masih menjadi alat tukar utama di dalam negeri. Hal ini karena masih banyak masyarakat yang belum terjangkau dengan sistem perbankan.

"Kolaborasi strategis antara LinkAja dan ekosistem digital kami yang di dalamnya termasuk OVO dan Tokopedia memungkinkan kami untuk menyediakan beragam layanan cashless bagi semua lapisan masyarakat Indonesia dengan aman, nyaman, dan mudah diakses," jelas Neneng.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)