Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Bank Sentral Inggris Suntik Stimulus Tambahan Rp2.805 T

 

Bank sentral Inggris (Bank of England/BoE) mengucurkan stimulus tunai tambahan senilai 150 miliar poundsterling atau sekitar Rp2.805 triliun (asumsi kurs Rp18.700 per poundsterling) untuk mengantisipasi dampak resesi ekonomi yang lebih dalam akibat pandemi virus corona atau covid-19.

Stimulus ini juga diberikan untuk meredam dampak penguncian wilayah (lockdown) sebagai antisipasi gelombang kedua pandemi.

"Bank of England akan meningkatkan target kepemilikan dari obligasi pemerintah Inggris yang dibeli dengan tambahan 150 miliar poundsterling, ini dibiayai oleh penerbitan cadangan bank sentral," ungkap Komite Kebijakan Moneter BoE seperti dikutip dari AFP, Kamis (5/11).

Keputusan dari BoE dilakukan sebelum pengumuman paket stimulus fiskal dari pemerintah Inggris yang diumumkan Menteri Keuangan Rishi Sunak. Pemberian stimulus fiskal pemerintah termasuk perpanjangan cuti dari pemerintah.

Selain itu, pemerintah juga akan membayar sekitar 80 persen gaji pekerja yang perusahaannya terpaksa tutup. Pagunya sekitar 2.500 poundsterling per bulan.

Secara total, BoE sudah memberikan stimulus ke pasar mencapai 895 miliar poundsterling. Pertama kali, stimulus diberikan sebesar 450 miliar poundsterling pada Maret lalu.

Setelah itu, BoE menambah lagi stimulusnya untuk mengantisipasi dampak pandemi ke negara tersebut. Sementara Inggris siap melangsungkan lockdown selama empat minggu ke depan dalam rangka penanganan pandemi gelombang kedua.

Sebelumnya, Inggris pernah melangsungkan lockdown pada April sampai Juni 2020. Kebijakan itu memicu resesi di negara yang terletak di kawasan Eropa itu.

BoE menilai lockdown kedua akan memberikan ketidakpastian bagi prospek ekonomi Inggris ke depan. Indikator penentu berada di perkembangan konsumsi rumah tangga, bisnis, dan pasar keuangan ke depan.

"Prospek ekonomi tetap tidak pasti. Itu tergantung pada evolusi pandemi dan tindakan yang diambil untuk melindungi kesehatan masyarakat, transisi, dan pengaturan perdagangan baru antara Uni Eropa dan Inggris," terang BoE.

Kendati begitu, BoE menilai lockdown mau tidak mau perlu dilakukan. Pertimbangan ini pun sudah dibicarakan dengan para ahli epidemologi.

"Saya melihatnya dari sudut pandang kebijakan ekonomi, menurut saya sangat penting bagi kami untuk mengambil tindakan yang cepat dan kuat. Kita semua sadar ini situasi yang luar biasa, saya kira sudah sepantasnya kita mengambil tindakan ini," kata Gubernur BoE Andrew Bailey.

Sebelumnya, BoE juga memberi stimulus moneter berupa penurunan tingkat suku bunga acuan hingga level terendah 0,1 persen. Di sisi lain, BoE memandang Inggris juga punya tantangan ekonomi lain dari belum tercapainya kesepakatan Brexit dengan Uni Eropa.

Ekonomi Inggris diperkirakan akan turun 2 persen pada kuartal IV 2020 dan turun 11 persen pada keseluruhan tahun ini. Proyeksinya memburuk dari sebelumnya 9,5 persen. Namun, ekonomi tahun depan diramal berbalik ke kisaran 7,25 persen.

Ekonom sekaligus Direktur IHS Marki Tim Moore memperkirakan ekonomi Inggris bisa jatuh lebih dalam. "Lockdown November di Inggris dan memburuknya situasi covid-19 di seluruh Eropa berarti bahwa ekonomi Inggris tampaknya berada di jalur resesi yang dalam dua kali lipat pada musim dingin ini dan jalan yang jauh lebih menantang menuju pemulihan pada 2021," kata Moore kepada CNN Business

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini