Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Satgas PEN Klaim Efek e-Commerce Kalah Jauh dari Pasar Fisik

 

Ketua Satuan Tugas Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) merangkap Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) I Budi Gunadi Sadikin mengklaim kegiatan virtual atau digital tak memiliki dampak besar terhadap ekonomi di masa pandemi covid-19.

"Sebaik-baiknya melakukan virtualisasi atau digitalisasi pasar atau e-commerce, masih jauh dibandingkan volume pasar fisik atau pasar basah, atau di mal-mal yang ada di perkotaan," ucap dia, dalam CEO Networking 2020, Selasa (24/11).

Ia mencontohkannya dengan efek langsung dari acara seminar virtual terhadap ekonomi yang rendah. Hal ini berbeda jika seminar seperti ini dilakukan di hotel atau di tempat yang bisa dikunjungi masyarakat secara fisik, bukan virtual.

"Seminar seperti ini secara digital tetap secara aktivitas ekonomi jauh di bawah kalau dilakukan fisik seperti tahun lalu di hotel," terang Budi.

Kondisi ini, sambung Budi, telah menekan beragam industri usaha di berbagai sektor. Beberapa industri tersebut, yakni pariwisata, transportasi, dan pendidikan. Ia mengakui situasi ini telah membuat Indonesia masuk dalam krisis.

Namun, krisis kali ini berbeda dengan tiga krisis sebelumnya. Diketahui, dunia telah mengalami tiga kali krisis ekonomi, yaitu 1998, 2008, dan 2013.

Ketiga krisis itu disebabkan oleh keuangan. Sementara, krisis pada 2020, disebabkan oleh sektor kesehatan.

"Krisis ini penyebabnya prinsip kesehatan, kalau perlu yang memimpin tetap orang kesehatan. Orang ekonomi seperti saya mundur karena memang yang harus dibereskan kesehatan dulu," kata Budi.

Jika sektor kesehatan sudah pulih, maka masyarakat akan kembali berani keluar. Alhasil, kegiatan kontak fisik kembali terjadi dan ekonomi kembali pulih.

"Sebagian besar ekonomi dunia dan Indonesia itu pergerakannya oleh kontak fisik, di mana orang-orang bertemu di luar," jelas Budi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)