Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Penjualan Mobil di China Mulai Pulih Usai Dihantam Corona


Penjualan mobil di China mengalami pertumbuhan 4,5 persen pada April dibanding bulan yang sama tahun kemarin dengan catatan 2,07 juta unit menurut data Asosiasi Produsen Otomotif China.

Pertumbuhan ini menunjukkan pasar otomotif di China, negara asal wabah virus corona (Covid-19), berangsur pulih dari keterpurukkan. Pemulihan pasar disokong sejumlah kebijakan pemerintah untuk meningkatkan pembelian kendaraan usai mengalami penurunan 79 persen pada Februari dan 43 persen pada Maret.
Asosiasi menjelaskan produksi dan operasi bisnis sebagian besar produsen telah dimulai kembali pada April.

"Perusahaan mobil disarankan memperhatikan perubahan dalam situasi epidemi di luar negeri dan membuat persiapan yang tepat di muka untuk mengurangi risiko," kata asosiasi tersebut mengutip ShanghaiDaily, Selasa (12/5).

Kendati begitu asosiasi mengatakan bakal ada persentase penurunan penjualan secara total pada semester satu sekitar 10 persen dan diprediksi 5 persen selama setahun.

Pada periode Januari-April penjualan berjumlah 5,76 juta unit, itu turun 31,1 persen ketimbang periode serupa pada 2019. Penurunan ini dipahami karena faktor ekonomi makro dan kepercayaan konsumen yang lemah di tengah pandemi.

Asosiasi juga mengatakan pasar mobil di China diperkirakan akan pulih pada kuartal kedua, tetapi akan sulit untuk mencapai level yang sama seperti periode tahun sebelumnya.

Kontribusi penjualan mobil di China pada April sebagian besar berasal dari segmen penumpang sekitar 74 persen atau 1,53 juta unit. Sedangkan kendaraan komersial mengambil porsi 26 persen.
Mengutip CNN, pada April penjualan kendaraan energi terbarukan di negeri tirai bambu turun 26,5 persen menjadi 72 ribu unit. Pada April penjualan mobil listrik turun menjadi 51 ribu unit dan hybrid menjadi 20 ribu unit.

Salah satu produsen mobil listrik di China, Tesla, mengaku penjualan mencapai lebih dari 3.600 pada April. Namun jumlah tersebut menurun dibandingkan Maret sebesar 64 persen.

Tesla Model 3 masih menjadi mobil energi terbarukan terlaris sepanjang 2020 . Tesla belum menanggapi CNN soal angka penjualannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025