Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Bappenas Sebut Jumlah Pengangguran Bisa Tambah 4,22 Juta


Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas menyatakan jumlah pengangguran di Indonesia tahun ini berpotensi bertambah sebanyak 4,22 juta orang. Penambahan terjadi karena penyebaran virus corona yang masif di dalam negeri.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan beberapa perusahaan telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) atau merumahkan karyawannya. Hal itu dilakukan karena keuangan perusahaan terganggu akibat pandemi corona.

"Jadi tingkat pengangguran ini perlu dirasionalkan lagi angkanya. Jumlah pengangguran akan bertambah 4,22 juta pada 2020 dibandingkan 2019," ucap Suharso dalam video conference, Selasa (12/5).

Dengan kenaikan jumlah pengangguran ini, Suharso menyatakan outlook tingkat pengangguran terbuka
(TPT) pada 2020 sebesar 7,8 persen-8,5 persen. Angkanya lebih tinggi dibandingkan target yang ada di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar 4,8 persen-5 persen atau realisasi 2019 kemarin yang sebesar 5,28 persen.
Kemudian, Suharso memaparkan pihaknya memproyeksi tingkat pengangguran terbuka pada 2021 berada di kisaran 7,5 persen sampai 8,2 persen. Ini artinya ada potensi membaik meski tipis pada 2021 mendatang.

Walaupun begitu, ia mengaku tetap khawatir bahwa kemiskinan akan sulit ditekan pada tahun depan. Masalahnya, tingkat pengangguran masih di sekitar 7 persen-8 persen.

"Saya khawatir pada 2021 tingkat kemiskinan itu tidak bisa tertekan tapi mudah-mudahan benar-benar kami bisa tekan," ujar Suharso.
Suharso menyatakan outlook tingkat kemiskinan pada 2020 sebesar 9,7 persen sampai 10,2 persen. Lalu, Bappenas menargetkan tingkat kemiskinan turun di level 9,2 persen-9,7 persen tahun depan.

"Kami berharap angkanya bisa kami koreksi ke 9 persen. Kalau sampai menjadi dua digit itu benar-benar suatu pekerjaan yang berat," pungkasnya.

Diketahui, tingkat kemiskinan pada 2019 lalu berada di level 9,22 persen. Sementara, pemerintah menargetkan angka kemiskinan dalam APBN 2020 di level 8,5 persen-9 persen.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini