Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Harga Minyak Dunia Mulai Lepas dari Tekanan


Harga minyak mentah dunia bergerak bervariasi pada perdagangan Jumat(31/4). Kedua acuan harga minyak membukukan keuntungan mingguan pertama setelah empat pekan tertekan.

Mengutip Antara, Senin (4/5), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni naik 4 sen atau 0,2 persen ke posisi US$26,44 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni bertambah 94 sen atau 5 persen ke US$19,78 per barel.

Setelah tiga minggu berturut-turut mencatat kerugian, minyak mentah Brent naik sekitar 23 persen, sementara WTI meningkat sekitar 17 persen. Penguatan WTI didukung pengurangan rig minyak perusahaan energi AS selama tujuh minggu berturut-turut.

Usai pengurangan jumlah total rig AS menjadi 325 rig atau terendah sejak Juni 2016.
sepanjang masa bahkan diperdagangkan negatif untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Tak jauh berbeda, minyak Brent mencapai level terendah hampir 21 tahun. Pemicunya adalah penurunan permintaan akibat pandemi Covid-19.

Imbasnya, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia memangkas produksi sebesar 9,7 juta barel per hari (bph). Sebelumnya, OPEC+ gagal menyepakati pengurangan produksi sehingga harga minyak makin terbakar.

Bangkitnya harga minyak juga ditopang rencana pelonggaran penguncian wilayah (lockdown) di sejumlah negara. Pelonggaran rencananya dilakukan juga di Provinsi Hubei, tempat virus corona baru pertama kali terdeteksi.

Rencana pelonggaran lockdown ini sejalan dengan rencana pemotongan produksi sehingga memberikan sentimen positif pada minyak mentah.



"Stok minyak bumi global kemungkinan memuncak pada April karena permintaan minyak menyusut hampir 25 juta barel per hari secara tahun ke tahun," tulis laporan BofA Global Research.

Namun demikian, masih terdapat keraguan jika pengurangan produksi OPEC+ mampu mengerek harga minyak. Pasalnya, permintaan minyak tidak mungkin pulih dengan cepat.

"Harga masih sangat rendah dan dua minggu ke depan kemungkinan akan kembali terjadi volatilitas ekstrem," ujar analis di broker OANDA Craig Erlam.

Senada,broker minyak PVM Stephen Brennock juga menuturkan pemotongan produksi oleh OPEC+ tak mampu mengerek harga minyak signifikan.
Sebuah survei Reuters pada Kamis (30/4) menunjukkan bahwa sebelum penurunan produksi, OPEC meningkatkan produksi secara tajam ke level tertinggi sejak Maret 2019, sehingga menambah kelebihan pasokan di pasar.

"Pemotongan produksi yang mulai berlaku hari ini tidak akan ada obat mujarab untuk ketidakseimbangan pasokan yang lumayan," ujarnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)