Menteri Ara dan Nusron Sepakat Sertifikasi Gratis untuk Rumah MBR

  Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) bersama dengan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid sepakat menetapkan sertifikasi sektor perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) secara gratis. Hal tersebut diungkapkan dalam pertemuan Menteri PKP Maruarar Sirait dengan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di Ruang Rapat Menteri ATR/BPN, Jakarta, Selasa (14/7/2026). Ara juga mengapresiasi terobosan Kementerian ATR/BPN dalam menghadirkan program sertifikasi gratis bagi masyarakat berpenghasilan rendah. "Terobosan kolaborasi yang juga luar biasa dengan Pak Nusron adalah sertipikasi gratis bagi MBR. Itu merupakan karya dan dukungan yang luar biasa dari Menteri ATR/BPN bagi rakyat kecil," ujar dia dikutip dari keterangan resmi. Menteri Ara menuturkan, sinergi tersebut akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat karena tidak hanya memberikan kepastian...

Apotek Masih Kesulitan Mendapat Pasokan Masker


Sejumlah apotek mengaku masih kesulitan mendapatkan pasokan masker sampai sekarang. Salah satunya apotek di kawasan Pasar Minggu. Alhasil, sudah beberapa hari ini apotek tak menjual masker karena selalu kehabisan.

Salah satu karyawan di apotek Pasar Minggu itu menyatakan pasokan masker terakhir datang pekan lalu sebanyak 20 kotak (box). Setiap box nya terisi 50 masker.

Ia bilang stok tersebut langsung habis sekitar dua sampai tiga hari.

"Kami sekarang kosong stoknya. Kalau stok datang langsung habis dua sampai tiga hari," ucap pria yang enggan disebutkan namanya tersebut
Menurutnya, jumlah permintaan sejauh ini masih tinggi. Padahal, pemerintah sudah mengimbau masyarakat umum untuk memakai masker kain dan lebih banyak di rumah untuk mengurangi penyebaran virus corona.

Untuk mengakali banyaknya permintaan, ia bilang pihaknya selalu membatasi pembelian maksimal hanya dua masker untuk tiap orang. Harga satu masker dipatok sebesar Rp3 ribu per lembar.

"Harganya tidak berubah sejak awal kami jual Rp3 ribu. Kami tidak jual dengan harga yang terlalu tinggi," jelas dia.

Ia mengaku apotek tempatnya bekerja sudah kembali memesan masker lebih banyak ke distributor. Namun, pesanan itu belum juga datang hingga sekarang.

Di sisi lain, salah satu apotek di wilayah Bogor menyatakan memiliki stok masker sebanyak 150 lembar. Apotek ini justru mengaku permintaan masker menurun sejak akhir Maret atau kebijakan bekerja di rumah (work from home/wfh) mulai diberlakukan oleh beberapa perusahaan.

"Penurunan permintaan terjadi sejak akhir Maret dan menjelang April," ucap salah satu karyawan apotek yang tak mau disebutkan namanya tersebut.

Ia bilang apotek bisa menjual 100 masker per harinya saat virus corona mulai masuk ke Indonesia pada awal Maret 2020. Namun, kini jumlah penjualannya di bawah 100 lembar untuk sehari.

"Pembelian sebelumnya dibatasi maksimal dua lembar, sekarang tidak dibatasi tapi memang permintaan menurun," imbuh dia.
Apotek itu menjual masker sebesar Rp37 ribu per kemasan. Satu kemasan berisi lima masker, sehingga harga satu masker rata-rata Rp7.400.

"Sebetulnya masker bedah ini merk nya beda dari sebelumnya, ini dari kantor pusat dan sudah ditetapkan harganya segitu," pungkas pria tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini