Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Pekerja Industri Penerbangan Disebut Permanen 'Nganggur'


Ekonom dan investor Amerika Serikat (AS) menyebut gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi selama enam pekan terakhir akan menemui ujungnya. Banyak pekerja yang dirumahkan atau terkena PHK akan kembali bekerja seiring dengan dibukanya kembali aktivitas usaha di negeri Paman Sam.

Namun, kabar gembira itu tak berlaku untuk beberapa sektor. Salah satunya, industri penerbangan yang terpukul, karena terpuruknya permintaan dan ramainya larangan terbang. Ekonom dan investor AS bahkan berpendapat tenaga kerja sektor industri penerbangan akan kehilangan pekerjaannya secara permanen.

Perusahaan industri digital General Electric (GE) menyatakan pada Senin (4/5), pihaknya memangkas lebih dari 13 ribu pekerjaan secara permanen setelah menghapus lini bisnis mesin jet. Langkah tersebut diambil untuk mengatasi kontraksi mendalam yang belum pernah menimpa perusahaan penerbangan komersial tersebut.

GE menuturkan pemangkasan tersebut akan membantu perusahaan menghemat US$1 miliar atau Rp15 triliun (kurs Rp15 ribu per dolar AS). Sebab, pemesanan untuk mesin jet dan suku cadang anjlok seiring dengan pemangkasan produksi pesawat baru oleh Boeing dan Airbus.
Bahkan, seorang eksekutif dari maskapai United Airlines (UAL) mendesak para karyawan untuk meninggalkan perusahaan secara sukarela.

"Kami menyadari ini merupakan berita yang menyakitkan, namun ini adalah cerminan masa depan dari perusahaan," tulis COO UAL Greg Hart dalam memo yang ditujukan kepada karyawannya seperti dilansir dari CNN.com, Selasa (5/5).

Maskapai terseok-seok setelah dilarang memberhentikan staf untuk enam bulan ke depan sesuai dengan syarat yang disepakati saat menerima dana talangan sebesar US$5 miliar atau Rp75 triliun. Namun, perusahaan tetap berencana untuk memangkas jumlah staf pada Oktober mendatang.

Pengumuman ini menggarisbawahi gawatnya krisis yang dihadapi industri penerbangan yang diperkirakan memakan waktu tahunan untuk bangkit dari goncangan wabah virus corona.
Senasib, maskapai murah Eropa Ryanair, menyatakan pada Selasa pekan lalu bahwa lalu lintas April lalu amblas 99,6 persen. Hanya tersisa 40 ribu orang yang terbang pada bulan lalu dibandingkan dengan jumlah penumpang pada 2019 yaitu 13,5 juta orang.

Berbagai saham di sektor tersebut pun terjun bebas setidaknya sebesar 5 persen, seperti emiten DAL, LUV, dan AAL. Bahkan, investor sekelas Warren Buffett menyebut ia telah melepas seluruh kepemilikannya dan menyebut pilihannya untuk berinvetasi pada saham maskapai adalah sebuah kesalahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)