Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Pelonggaran Lockdown Angkat Rupiah ke Rp14.770 per Dolar AS


Nilai tukar rupiah berada di level Rpp14.755 per dolar AS pada Rabu (20/5). Posisi ini menguat 15 poin atau 0,1 persen dari Rp14.770 per dolar AS pada Selasa (19/5) sore.

Rupiah menguat dengan mayoritas mata uang Asia, seperti peso Filipina menguat 0,18 persen, baht Thailand 0,13 persen, dan dolar Singapura 0,08 persen. Kemudian, ringgit Malaysia menguat 0,04 persen dan dolar Hong Kong 0,01 persen.

Sementara beberapa mata uang Asia lain justru terperosok ke zona merah. Won Korea Selatan melemah 0,11 persen, yen Jepang minus 0,06 persen, dan yuan China minus 0,03 persen.


Sedangkan mata uang utama negara maju kompak melemah dari dolar AS. Dolar Australia menguat 0,24 persen, euro Eropa 0,19 persen, poundsterling Inggris 0,17 persen, franc Swiss 0,15 persen, dan dolar Kanada 0,15 persen.
Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra melihat nilai tukar rupiah akan kembali menguat pada hari ini dengan bergerak di kisaran Rp14.700 sampai Rp14.900 per dolar AS. Sentimen utama datang dari perkembangan aktivitas ekonomi di beberapa negara Eropa dan AS usai melakukan pelonggaran lockdown.

Hal ini sejalan dengan sentimen positif lain, di mana jumlah kasus positif virus corona atau Covid-19 mulai turun di beberapa negara. Begitu pula dengan penemuan vaksin corona yang masih mendukung optimisme pelaku pasar.

"Sentimen positif masih terlihat di pasar keuangan pagi ini meskipun pasar keuangan AS mengalami tekanan semalam. Rupiah bisa mendapatkan dukungan penguatan dari sentimen positif ini," ujar Ariston kepada CNNIndonesia.com, Rabu (20/5).

Kendati begitu, ia melihat pelaku pasar sejatinya tetap berhati-hati karena ketidakpastian masih tinggi. Sebab, pandemi corona belum benar-benar berakhir.


Sementara data-data ekonomi dari berbagai negara masih cukup buruk, meski ada yang mulai pulih. Di Indonesia sendiri, sentimen bagi rupiah bisa berasal dari rilis defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) dari Bank Indonesia (BI) dalam waktu dekat.

"Untuk CAD, kalau negatif tidak terlalu mempengaruhi rupiah karena memang sudah diekspektasi demikian. Tapi kalau positif, ini bisa mendukung penguatan rupiah," pungkasnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini