Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

China Klaim AS Berkomitmen Laksanakan Damai Dagang


Perwakilan perdagangan China dan AS pada Jumat sepakat untuk menciptakan iklim perdagangan yang saling menguntungkan sesuai yang disepakati dalam perjanjian fase pertama yang ditandatangani pada Januari.

Kesepakatan disampaikan pejabat Beijing di tengah peningkatan ketegangan dua negara terkait pandemi virus corona.

Wakil Perdana Menteri China Liu He yang memimpin negosiasi perundingan dagang pada Jumat (8/5) pagi telah berbicara dengan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin kata informasi yang disampaikan Kementerian Perdagangan Negeri Tirai Bambu.

"Kedua belah pihak mengatakan harus memperkuat kerja sama ekonomi makro dan kesehatan masyarakat, berusaha untuk menciptakan suasana dan kondisi yang menguntungkan untuk pelaksanaan perjanjian ekonomi dan perdagangan fase satu AS-China, yang mempromosikan hasil positif," kata informasi tersebut seperti dikutip dari AFP, Jumat (8/5).
Sebagai informasi, ketegangan AS dengan China pada Januari lalu mereda. Beijing setuju untuk mengimpor produk senilai US$200 miliar dari AS selama dua tahun.

Nilai impor tersebut di atas level yang dibeli pada 2017. Kesepakatan tersebut menandai gencatan senjata dalam perang perdagangan antara dua negara tersebut.

Tapi pekan lalu ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif baru terhadap China. Ancaman disampaikannya setelah ia mengklaim memiliki bukti terkait keterlibatan China dalam  penyebaran virus corona melalui laboratorium keamanan tingkat tinggi di kota Wuhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)