Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Hindari Inden Lama, Produksi Terios dan Rush Dipisah


Astra Daihatsu Motor memisahkan kegiatan produksi Terios dan Rush di dua lokasi pabrik berbeda. Sebab permintaan dua model itu sedang membeludak. Produksi mobil 'kembar' itu kini juga dilakukan di dua pabrik Daihatsu yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat, dan Sunter, Jakarta Utara.

Direktur Marketing Astra Daihatsu Motor (ADM) Amelia Tjandra mengatakan strategi tersebut mampu menjaga jumlah produksi Terios dan Rush.

"Sejak dipindahkan jadi diproduksi di dua tempat suplai Terios tidak bermasalah," kata Amelia di Bandung, Jawa Barat belum lama ini.


Menurut Amelia, pihaknya dapat menjaga produksi Terios sebanyak 2.000-2.500 unit per bulan, alhasil bisa memangkas masa inden. Pada Juli, ADM mengakui inden Terios hingga tiga bulan lamanya.

"Jadi September kami full untuk produksi di dua tempat itu," ucapnya.
Amelia mengatakan sebelumnya pabrik Karawang Daihatsu yang punya kemampuan kapasitas produksi 200 ribu unit per tahun hanya memproduksi mobil murah ramah lingkungan (low cost green car/LCGC) Toyota dan Daihatsu.

"Jadi sekarang sudah nambah dengan produksi Rush dan Terios," ujarnya.

Sementara itu volume produksi Xenia selama dua bulan (Juli-Agustus) 2019 diketahui mengecil. Hal tersebut disebabkan pabrik Daihatsu juga harus memenuhi produksi mobil Toyota.

Permintaan mobil Toyota juga tengah meningkat, bahkan ekspor Rush sedang naik hingga 240 persen. Imbasnya jumlah penjualan wholesales (distribusi dari pabrik ke dealer) Xenia mengecil pada Juli 676 unit, Agustus (462 unit), dan September 2019 naik ke level 1.500 unit.

"Terus ada peningkatan ekspor Rush 240 persen jadi ya harus dipenuhi dulu. Terus Avanza mintanya juga banyak. Nah Xenia yang jadi suplainya terhambat," ungkap Amelia.
Untuk Xenia dan Avanza produksinya hanya dilakukan di pabrik Daihatsu Sunter yang memiliki kapasitas produksi 330 ribu unit per tahun yang juga digunakan untuk memproduksi Gran Max.

Ia menambahkan strategi memecah produksi Xenia-Avanza ke Karawang untuk mengantisipasi menurunnya suplai seperti Juli-Agustus tidak mungkin dilakukan. Sebab kapasitas produksi di dua pabrik Daihatsu saat ini sudah terlampau penuh.

"Kapasitasnya sudah penuh. Kalau dibuat lagi (seperti Rush-Terios di Karawang) ini mesti gedein pabrik lagi. Kalau pabrik ditambah lagi bisa," tutup Amelia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini