Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Selasa Pagi, Rupiah Menguat ke Level Rp14.190 per Dolar AS


Nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp14.190 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Selasa (1/10) pagi. Posisi ini menguat 0,04 persen dibanding penutupan kurs rupiah pada Senin (30/9) yakni Rp14.195 per dolar AS.

Pagi hari ini, pergerakan mata uang utama Asia bervariasi terhadap dolar AS. Terdapat mata uang yang menguat seperti dolar Hong Kong sebesar 0,02 persen, baht Thailand 0,05 persen, dan peso Filipina 0,1 persen.

Namun di sisi lain, terdapat mata uang yang melemah terhadap dolar AS seperti dolar Singapura sebesar 0,04 persen, yen Jepang 0,06 persen, dan won Korea Selatan 0,15 persen. Sementara itu, ringgit Malaysia tak bergerak terhadap dolar AS.


Mata uang negara maju seperti dolar Australia menguat 0,04 persen terhadap dolar AS. Namun, euro dan poundsterling Inggris masing-masing melemah sebesar 0,02 persen dan 0,09 persen.
Sementara itu, Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah hari ini masih tetap akan melemah karena kelanjutan drama perang dagang antara AS dan China.

Perang dagang kini sudah memasuki babak baru sejak ada kabar bahwa pemerintah AS berencana menghapus perusahaan China yang melantai di bursa saham AS. Namun, kini pelaku pasar mengabaikan kabar itu karena pemerintah AS sempat mengatakan aksi itu bukanlah hal mendesak.

Meski demikian, pelaku pasar masih wanti-wanti terhadap pasar keuangan. "Ini membuat para investor gelisah dan mendorong permintaan dolar AS," jelas Ibrahim, Selasa (1/10).

Sementara dari dalam negeri, pelaku pasar mengantisipasi data inflasi yang akan disampaikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Banyak pihak memprediksi Indeks Harga Konsumen (IHK) akan mengalami deflasi sebesar 0,15 persen secara bulanan.
"Dalam perdagangan hari ini, rupiah masih akan melemah disebabkan data eksternal dengan range di level Rp14.160 hingga Rp14.210 per dolar AS," jelas dia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)