Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Selasa Pagi, Rupiah Menguat ke Level Rp14.190 per Dolar AS


Nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp14.190 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Selasa (1/10) pagi. Posisi ini menguat 0,04 persen dibanding penutupan kurs rupiah pada Senin (30/9) yakni Rp14.195 per dolar AS.

Pagi hari ini, pergerakan mata uang utama Asia bervariasi terhadap dolar AS. Terdapat mata uang yang menguat seperti dolar Hong Kong sebesar 0,02 persen, baht Thailand 0,05 persen, dan peso Filipina 0,1 persen.

Namun di sisi lain, terdapat mata uang yang melemah terhadap dolar AS seperti dolar Singapura sebesar 0,04 persen, yen Jepang 0,06 persen, dan won Korea Selatan 0,15 persen. Sementara itu, ringgit Malaysia tak bergerak terhadap dolar AS.


Mata uang negara maju seperti dolar Australia menguat 0,04 persen terhadap dolar AS. Namun, euro dan poundsterling Inggris masing-masing melemah sebesar 0,02 persen dan 0,09 persen.
Sementara itu, Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah hari ini masih tetap akan melemah karena kelanjutan drama perang dagang antara AS dan China.

Perang dagang kini sudah memasuki babak baru sejak ada kabar bahwa pemerintah AS berencana menghapus perusahaan China yang melantai di bursa saham AS. Namun, kini pelaku pasar mengabaikan kabar itu karena pemerintah AS sempat mengatakan aksi itu bukanlah hal mendesak.

Meski demikian, pelaku pasar masih wanti-wanti terhadap pasar keuangan. "Ini membuat para investor gelisah dan mendorong permintaan dolar AS," jelas Ibrahim, Selasa (1/10).

Sementara dari dalam negeri, pelaku pasar mengantisipasi data inflasi yang akan disampaikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Banyak pihak memprediksi Indeks Harga Konsumen (IHK) akan mengalami deflasi sebesar 0,15 persen secara bulanan.
"Dalam perdagangan hari ini, rupiah masih akan melemah disebabkan data eksternal dengan range di level Rp14.160 hingga Rp14.210 per dolar AS," jelas dia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini