Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Cari Cara Kurangi Stres, Ilmuwan Uji 'Neuroplasticity'


Ilmuwan melakukan penelitian bagaimana stimuli berbeda pada tikus percobaan bisa mengurangi stres. Mereka melakukan percobaan terhadap tikus yang ditempatkan pada dua lingkungan.

Pertama adalah tikus yang diberi stimuli dengan memberikan permainan balap mobil dan di akhir permainan tikus akan diberi hadiah makanan sereal. Sementara tikus lainnya hanya ditempatkan pada kondisi laboratorium biasa.

Hasilnya, tikus yang diberi stimuli balap mobil ternyata berada pada kondisi lebih relaks ketimbang tikus laboratorium. Temuan ini menunjukkan bukan hanya betapa kompleks otak tikus. Tapi juga diharapkan bisa digunakan untuk mengembangkan pengobatan tanpa obat-obatan kepada pasien dengan gangguan mental. Hal ini diungkap oleh penulis senior Kelly Lambert dari Universitas Richmond seperti ditulis AFP.

Menurut Lambert, ia sudah lama tertarik dengan neuroplasticity. Ini adalah istilah yang menjelaskan bagaimana kemampuan otak untuk mengubah koneksi dan kemampuan mereka terhadap pengalaman dan tantangan tertentu. Sebelumnya, dipercaya bahwa otak bersifat statis dan bawaan, namun studi ini menunjukkan otak bisa merestrukturisasi dirinya sendiri, mengutip Nature Review Neuroscience.

Mengutip Britannica, beberapa penelitian menunjukkan bagaimana pasien stroke bisa mengembalikan fungsi yang hilang lewat latihan mental dan membayangkan. Terapi ini menggunakan kemampuan neuroplasticity untuk mengaktifkan kembali bagian otak yang rusak.

Harapannya, penelitian ini bisa digunakan untuk membuat terapi penyembuhan bagi mereka yang mengalami depresi dan schizophrenia.

"Tidak ada penyembuh untuk schizophrenia dan depresi," jelasnya. "Dan kita perlu segera mengejarnya dan kami pikir untuk mencoba pada tipe binatang lain dan tubas berbeda. Saya percaya (perubahan) perilaku bisa mengubah kimia otak," Lambert.

Sebanyak 17 tikus kecil dilatih selama beberapa bulan untuk mengelilingi sirkuit berukuran 150x60 sentimeter yang terbuat dari kaca plexiglass.
Mobil itu dimodifikasi agar bisa bergerak sesuai dengan arahan tikus. Tikus bisa mengendalikan mobil untuk bergerak maju, belok kiri atau kanan. Mereka menyediakan berbagai model arena balap untuk mengetes kemampuan navigasi yang lebih sulit.

Temuan mereka menunjukkan tikus yang ditempatkan di lingkungan yang lebih banyak mengandung stimuli punya performa lebih baik dari tikus lab.

Mereka juga meneliti feses tikus untuk mengecek keberadaan hormon stres kortikosteron dan dehidroepieandrosterone yang berfungsi mengatasi stres. Ternyata tikus-tikus yang ikut terapi punya tingkat dehidroepieandrosterone yang lebih tinggi. Artinya, tingkat stres mereka lebih rendah.

Tikus yang mengendarai sendiri mobil percobaan mereka bahkan lebih relaks ketimbang tikus yang menaiki mobil percobaan itu sebagai penumpang saja. Sebab, para peneliti juga membuat percobaan pada tikus yang menaiki mobil percobaan, namun gerakan mobil itu dikendalikan oleh manusia. Hal ini menunjukkan mengapa penumpang mobil bisa lebih stres daripada mereka yang mengemudikan mobil itu sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025