Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Tuai Awan Hujan Lebih Banyak, BPPT Akan Pakai Hercules


Untuk melakukan penyemaian garam (NaCL) dalam jumlah lebih besar, BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) berencana memakai pesawat Hercules C-130. Dengan pesawat ini diharapkan bisa menuai garam untuk membentuk awan hujan buatan lebih banyak sehingga teknologi modifikasi cuaca (TMC) bisa lebih efektif padamkan wilayah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) .

"BPPT berencana akan memakai pesawat Hercules C-130 untuk menyemai garam NaCl dengan jumlah lebih besar ke wilayah terdampak karhutla," jelas Peneliti Utama UPT Hujan Buatan BPPT Edvin Aldrian dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat 9 di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta Timur, Rabu (2/10).

Selama ini, BPPT menggunakan empat pesawat CN 219 dan Casa 212-200 untuk melakukan operasi rekayasa hujan TMC. Sementara 41 helikopterdikerahkan BNPB dan TNI-AU untuk melakukan water bombing.

Edwin mengatakan pihaknya akan terus melakukan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) pada Oktober 2019 ini.

"Jadi sejak beberapa minggu lalu kita bisa dilihat dampak dari operasi TMC. Sejumlah daerah sudah mulai turun hujan," tuturnya.

Edvin mengatakan beberapa daerah karhutla yang mulai dilanda hujan sejak minggu lalu melalui rekayasa TMC adalah Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

Lewat akun Twitter, BPPT juga mengumumkan akan melakukan penyemaian awan di wilayah Sumatera Selatan, yaitu di Kabupaten Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, dan Banyuasin.




"Selama bulan Oktober, operasi penyemaian garam dari udara tetap dilakukan oleh gabungan BPPT,BMKG dan TNI-AU," jelas Edvin.

Tim TMC banyak dibantu oleh BMKG dan alat bantu radar seperti NOAA yang memandu tim dalam memadamkan titik-titik api di wilayah yang terbakar. Strategi rekayasa hujan adalah memetakan jalur penerbangan dan terhindar dari kepekatan asap.
Edin mengatakan TMC melakukan penyemaian kapur tohor (CaO) di pagi hari. Upaya itu akan mengurangi kepekatan asap dan memudahkan pertumbuhan awan potensial di sejumlah wilayah karhutla.

"Setelah awan-awan terpantau, baru di siang hingga sore harinya melakukan penyemaian menggunakan garam NaCL untuk menurunkan hujan," kata Edvin.

Dalam akun resmi, BPPT pun memberikan penjelasan bagaimana TMC masuk ke awan untuk melakukan penyemaian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini