Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Data Manufaktur AS Angkat Rupiah ke Rp14.211 per Dolar


Nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp14.211 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Rabu (2/10) pagi. Posisi ini melemah 0,14 persen dibanding penutupan Selasa (1/10) yang di Rp14.216 per dolar AS.

Pagi hari ini, mayoritas mata uang utama Asia menguat terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong menguat 0,02 persen, baht Thailand menguat 0,05 persen, yen Jepang menguat 0,06 persen, dan ringgit Malaysia menguat 0,13 persen.

Di kawasan Asia, hanya won Korea Selatan yang melemah terhadap dolar AS yakni sebesar 0,24 persen. Mata uang negara maju seperti poundsterling Inggris melemah 0,05 persen terhadap dolar AS, namun euro menguat 0,08 persen dan dolar Australia menguat 0,09 persen terhadap dolar AS.


Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa indeks dolar AS tadinya menguat setelah inflasi tahunan di Jerman melambat ke level terendah dalam hampir tiga tahun terakhir. Ini menegaskan bahwa kekuatan ekonomi terbesar Eropa ini tidak menunjukkan pemulihan ekonomi.
Padahal, Bank Sentral Eropa telah mengeluarkan putaran baru langkah-langkah pelonggaran moneter pada 12 September lalu. Tetapi ada kekhawatiran bahwa bank sentral mencapai batas-batas maksimalnya dan beban akan jatuh ke pemerintah zona euro untuk meningkatkan pengeluaran fiskal.

Alhasil, permintaan euro berkurang dan meningkatkan permintaan dolar AS. Dolar AS diperkirakan berkibar jika rilis indeks manufaktur pada Selasa (1/10) waktu setempat menunjukkan perbaikan.

Hanya saja, indeks manufaktur AS ternyata terjun ke level terendah dalam 10 tahun terakhir. Institute for Supply Management mengatakan bahwa indeks aktivitas manufaktur AS turun ke angka 47,8 pada September. Padahal, angka indeks di bawah 50 menunjukkan bahwa sektor manufaktur AS tengah kontraksi.

Meski demikian, pelaku pasar juga mengantisipasi tawaran Perdana Menteri Inggris Boris Johnson kepada Uni Eropa yang rencananya akan diumumkan Rabu (2/10). Rencananya, Johnson akan mengumumkan bahwa perceraian Inggris dari Uni Eropa pada 31 Oktober mendatang adalah 'harga mati'.

"Dalam transaksi hari ini, rupiah masih akan melemah yang didukung oleh sentimen eksternal terutama Brexit dan demo di Hong Kong," katanya Rabu (2/10).

Ia memperkirakan hari ini rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.185 hingga Rp14.225 per dolar AS.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)