Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Pemerintah Setop Impor Avtur dan Solar Mulai Mei Nanti


Pemerintah menyatakan akan menghentikan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis avtur dan solar mulai Mei nanti. Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan kebijakan tersebut dilakukan untuk menekan impor minyak dan gas demi memperbaiki kinerja neraca transaksi berjalan.

"Mulai bulan depan, migas terutama avtur dan solar, kami tidak akan impor. Kami mau pakai produk kita di dalam dan diolah di sini," katanya seperti dikutip dari Antara, Jumat (10/5).

Darmin yakin, kebijakan tersebut akan bisa dijalankan dengan baik.


Menurutnya, Pertamina saat ini sudah bisa mengolah crude oil menjadi avtur dan solar sesuai kebutuhan dalam negeri.
"Baik dari sisi jumlah dan kualitas, Pertamina sepertinya sudah bisa," katanya.

Sebagai catatan, Bank Indonesia (BI) mencatat defisit neraca transaksi berjalan mencapai 7,0 miliar dolar AS atau 2,6 persen dari PDB pada triwulan I 2019.

Defisit ini lebih rendah dari triwulan sebelumnya 9,2 miliar dolar AS atau 3,6 persen terhadap PDB. Meskipun demikian defisit tersebut lebih tinggi dari periode sama 2018 sebesar 5,19 miliar dolar AS atau 2,01 persen dari PDB.

Darmin mengatakan defisit tersebut salah satu biang kerok paling dominannya berasal dari impor minyak dan gas yang tinggi. Ia berharap penggunaan migas produksi dalam negeri yang dijalankan pemerintah ke depan akan berdampak pada penurunan impor migas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini