Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Meugang,Tradisi Berbagi Daging Daging Sapi dan Kerbau di Aceh


Pagi itu, pukul 07.00 WIB di Peunayong, Banda Aceh warga mulai berbondong-bondong memenuhi pasar jelang bulan Ramadan. Daging sapi atau kerbau segar, khususnya bagian paha ditumpuk di atas bangku, digantung di tiang.

Ketika bulan Ramadan tiba, harga daging mulai merangkak naik, khususnya di Aceh.

Di provinsi ini, harga daging sapi atau kerbau bahkan mencapai klimaksnya dengan harga di atas Rp150 ribu per kilogram. Parah-parahnya, bisa mencapai Rp200 ribu per kilogram.


Kondisi ini tentunya jauh berbeda dengan harga daging sapi atau kerbau di hari biasa yang hanya berada di kisaran Rp130 ribu per kilogram.

Meski demikian permintaaannya tetap tinggi. Warga Aceh tetap memburu daging sapi atau kerbau ini. Daging ini menjadi salah satu bagian penting dalam tradisi warga Aceh, uroe meugang untuk menyambut Ramadan.
dibeli dengan cara patungan atau meuripee. Persis seperti saat Hari Raya Idul Adha.

Untuk menjalankan tradisi meugang ini, keluarga dekat sampai tetangga akan menyantap ragam masakan denagn bahan utama daging sapi atau kerbau ini. Tradisi ini dilakukan untuk menyambut datangnya Ramadan, sehari menjelang Idul Fitri, dan Idul Adha.

Ini tak berarti kalau warga Aceh tak makan daging dalam kesehariannya. Mereka tetap menyantap daging, hanya saja, 'makna' daging saat meugang terasa berbeda saat meugang.

Daging hasil meuripee ini dibersihkan dan dipotong-potong berdasarkan catatan jumlah peserta patungan. Masing-masing peserta patungan akan mendapatkan satu tumpuk daging. Isinya antara lain daging has, tulang, dan daging bagian dalam.

Seorang ayah akan sangat bangga jika bisa membawa pulang daging sapi atau kerbau ke rumahnya saat meugang tiba.

Mengutip Antara, ada banyak varian masakan yang dimasak dengan bahan dasar daging ini antara lain kuah beulangong, gulai nangka, atau pun sie reuboh (daging rebus).

Sejarah Meungang

Pengamat sejarah dan adat Aceh, M Adli Abdullah mengatakan bahwa Ramadan tanpa meugang akan terasa sangat hambar di Aceh. Perayaan ini bukanlah kewajiban, namun sudah kebiasaan.

Tradisi ini sudah digelar di Aceh sejak ratusan tahun lalu dan masih dilestarikan sejak saat ini. Tradisi ini dimulai sejak masa kepemimpinan Sultan Alaiddin Iskandar Muda Meukuta Alam.

"Saat itu Sultan mengadakan acara menyembelih hewan ternak sapi dalam jumlah yang banyak dan dagingnya dibagi-bagikan kepada rakyatnya," kata dia.

Perayaan meugang memiliki beberapa dimensi nilai-nilai ajaran Islam dan adat istiadat masyarakat Aceh. Nilai pertama adalah nilai religius, kedua, nilai berbagi sesama.

"Bahkan, perayaan meugang ini merupakan momen bagi orang kaya untuk memberikan sedekah kepada fakir miskin dan anak yatim, khususnya yang berada di sekitar tempat tinggal mereka," katanya.
Ketiga, nilai kebersamaan. Itu mengandung arti bahwa tradisi meugang menjadi hal yang penting karena pada hari itu akan berlangsung pertemuan silaturrahim yang berada di kampung dengan yang baru pulang dari perantauan.

"Pada hari meugang itu, masyarakat menyantap aneka masakan berbahan utama daging sapi dan kerbau secara bersama-sama di rumah orang tua atau orang yang dituakan dalam keluarganya," katanya menjelaskan.

Kemudian, makna yang keempat dari "meugang" tersebut yakni memberikan penghormatan kepada kedua orang tua.

"Ini juga mengandung makna bahwa seorang anak, terutama yang hidup di perantauan merindukan masakan daging dari orang tuanya, sehingga terkadang mereka khusus pulang ke kampung halaman pada setiap hari meugang," kata dia.

Sisi lain dari hari "meugang" yakni selain berkumpul bersama keluarga besar juga karena mengikuti sunnah Rasul yakni Nabi Muhammad SAW tentang bergembiranya umat Islam ketika menyambut bulan penuh kesucian itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini