Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Pemerintah Bidik 11 Proyek Migas Beroperasi Tahun Ini


Pemerintah melalui Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) membidik 11 proyek utama yang akan beroperasi (onstream) pada 2019. Dengan beroperasinya 11 proyek utama tersebut, pemerintah yakin target produksi siap jual (lifting) minyak dan gas bumi (migas) sebesar 2 juta barrel oil ekuivalen per day (boepd) akan tercapai.

"Sebelas proyek ini berpotensi menambah produksi minyak sebesar 13.587 barel per hari (bph) dan gas 1.172 Million Standard Cubic Feet per Day (MMscfd)," ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (10/5).

Agung merinci proyek yang onstream tahun ini adalah Proyek Terang Sirasun Batur Phase 2 oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Kangean Energy Indonesia dengan estimasi produksi gas sebesar 120 MMscfd; Seng Segat milik EMP Bentu Ltd. dengan estimasi produksi gas 60 MMScfd; Ario-Damar-Sriwijaya Phase-2 milik PT. Tropik Enegi Pandan dengan estimasi produksi gas 20 MMScfd; dan Suban Compression milik ConocoPhillips (Grissik) Ltd. dengan estimasi produksi gas 100 MMScfd.

Selanjutnya, proyek YY milik PHE ONWJ dengan estimasi produksi gas 25,5 MMscfd dan minyak 4.605 bph; Bukit Tua Phase-3 milik Petronas Carigali Ketapang II Ltd. dengan estimasi produksi minyak 3.182 bph dan gas 31 MMscfd; dan Buntal-5 milik Medco E&P Natuna Ltd. dengan estimasi produksi gas 45 MMscfd.

Kemudian, terdapat pula proyek onstream yang berpotensi menghasilkan migas seperti Bison-Iguana-Gajah Puteri milik Premier Oil Natuna Sea B.V sebanyak 80 MMScfd; Temelat milik PT. Medco E&P Indonesia sebesar 10 MMScfd; Panen milik PetroChina International Jabung Ltd. sebesar 2.000 bph dan Kedung Keris milik ExxonMobil Cepu Ltd. sebesar 3.800 bph.
Hingga April 2018, investasi hulu migas telah mencapai US$3,17 miliar. Kendati demikian, masih ada tambahan investasi dari komitmen kerja pasti (KKP) di wilayah kerja Jambi Merang pada tahun ini sejumlah US$38,1 juta. Secara kumulatif, tambahan investasi dari KKP dan komitmen pasti (KP) hingga tahun 2026 adalah sebesar US$2,16 miliar untuk kegiatan eksplorasi dan eksploitasi dengan onstream-nya 11 proyek utama tersebut.

Sebagai informasi, realisasi lifting migas hingga April 2019 mencapai 1,8 juta boepd dengan rincian lifting minyak 750 ribu bph dan lifting gas 5.909 MMscfd. Realisasi tersebut baru mencapai 89 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 2 juta boepd.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)