Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Awali Pekan, Rupiah Menguat ke Rp14.352 per Dolar AS


Nilai tukar rupiah diperdagangkan di level Rp14.352 per dolar AS pada Senin (27/5) pagi. Dengan demikian, maka rupiah menguat 0,28 persen dibandingkan penutupan Jumat (24/5) yakni Rp14.392 per dolar AS.

Pagi hari ini, mata uang utama Asia menguat terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia menguat 0,01 persen, dolar Hong Kong menguat 0,02 persen, dolar Singapura menguat 0,12 persen, baht Thailand menguat 0,16 persen, dan won Korea Selatan sebesar 0,29 persen.

Di kawasan Asia, hanya yen Jepang saja yang melemah terhadap dolar AS dengan nilai 0,1 persen. Kemudian, mata uang negara maju cenderung menguat terhadap dolar AS, seperti poundsterling Inggris sebesar 0,15 persen, dolar Australia sebesar 0,08 persen, dan euro sebesar 0,04 persen.


Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan rupiah masih menguat karena ditentukan banyak faktor. Dari sisi domestik, tingkat kepercayaan investor ke Indonesia sudah mulai menguat lagi pasca kerusuhan.
"Itu memberikan sentimen positif," katanya kepada CNNIndonesia.com, Senin (27/5).

Dari sisi global, saat ini imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun tengah menurun akibat ketidakpastian negosiasi dagang AS dengan China. Sehingga, obligasi pemerintah AS tak mengundang daya tarik.

Walhasil, indeks dolar AS terhadap beberapa mata uang melemah. Hal ini ditambah rilis data ekonomi AS yang tak sesuai dengan harapan, seperti penjualan rumah baru AS pada April yang turun 0,4 persen secara bulanan ke angka 5,19 juta unit, atau turun 4,4 persen jika dibanding secara tahunan.

Kemudian, indeks manufaktur AS juga terjun ke angka 50,6 pada Mei dari posisi 52,6 pada April lalu. Namun menurut Ariston, rupiah perlu mewaspadai tensi perang dagang antara AS dan China yang setiap saat bisa kian meledak. Untuk itu, rupiah diprediksi berada di dalam rentang Rp14.330 hingga Rp14.660 per dolar AS.

"Momentum penguatan berlanjut di pembukaan Senin, tapi perang dagang masih perlu diwaspadai," tuturnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini