Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Awali Pekan, Rupiah Menguat ke Rp14.352 per Dolar AS


Nilai tukar rupiah diperdagangkan di level Rp14.352 per dolar AS pada Senin (27/5) pagi. Dengan demikian, maka rupiah menguat 0,28 persen dibandingkan penutupan Jumat (24/5) yakni Rp14.392 per dolar AS.

Pagi hari ini, mata uang utama Asia menguat terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia menguat 0,01 persen, dolar Hong Kong menguat 0,02 persen, dolar Singapura menguat 0,12 persen, baht Thailand menguat 0,16 persen, dan won Korea Selatan sebesar 0,29 persen.

Di kawasan Asia, hanya yen Jepang saja yang melemah terhadap dolar AS dengan nilai 0,1 persen. Kemudian, mata uang negara maju cenderung menguat terhadap dolar AS, seperti poundsterling Inggris sebesar 0,15 persen, dolar Australia sebesar 0,08 persen, dan euro sebesar 0,04 persen.


Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan rupiah masih menguat karena ditentukan banyak faktor. Dari sisi domestik, tingkat kepercayaan investor ke Indonesia sudah mulai menguat lagi pasca kerusuhan.
"Itu memberikan sentimen positif," katanya kepada CNNIndonesia.com, Senin (27/5).

Dari sisi global, saat ini imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun tengah menurun akibat ketidakpastian negosiasi dagang AS dengan China. Sehingga, obligasi pemerintah AS tak mengundang daya tarik.

Walhasil, indeks dolar AS terhadap beberapa mata uang melemah. Hal ini ditambah rilis data ekonomi AS yang tak sesuai dengan harapan, seperti penjualan rumah baru AS pada April yang turun 0,4 persen secara bulanan ke angka 5,19 juta unit, atau turun 4,4 persen jika dibanding secara tahunan.

Kemudian, indeks manufaktur AS juga terjun ke angka 50,6 pada Mei dari posisi 52,6 pada April lalu. Namun menurut Ariston, rupiah perlu mewaspadai tensi perang dagang antara AS dan China yang setiap saat bisa kian meledak. Untuk itu, rupiah diprediksi berada di dalam rentang Rp14.330 hingga Rp14.660 per dolar AS.

"Momentum penguatan berlanjut di pembukaan Senin, tapi perang dagang masih perlu diwaspadai," tuturnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)