Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Polri Gandeng BIN Usut Kelompok Anarcho Syndicalism


Kepolisian Republik Indonesia (Polri) masih mengusut kelompok Anarko Sindikalisme yang diduga mendalangi keributan pada saat aksi peringatan hari buruh internasional atau May Day di sejumlah daerah.

Kepala Biro Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal (Brigjen) Polisi Dedi Prasetyo mengatakan dalam mengusut kelompok tersebut, Polri turut menggandeng sejumlah pihak.

"Nanti masalah legalnya dari Kemenkumham yang akan membantu polisi mengidentifikasi kelompok tersebut, kemudian dari Badan Intelijen Negara juga akan memberikan kontribusi kepada Polri," kata Dedi di Mabes Polri, Jumat (3/5).


Dedi menuturkan, Polri perlu juga melihat dari perspektif keamanan dan penegakan hukum. Menurut Dedi, pihaknya tak bisa terburu-buru dalam melalukan pengusutan.

"Siapa yang menjadi tokohnya di tiap daerah, berapa keanggotaannya kemudian nanti juga kita akan dalami keterkaitan jaringan di beberapa daerah," tuturnya.
Dedi mengungkapkan dari hasil identifikasi sementara, kelompok yang beraksi di Bandung memiliki jumlah paling banyak. Kemudian diikuti dengan di Jakarta, Semarang, Jogja, Surabaya, dan Sulawesi Selatan.

Di Bandung, kata Dedi, diketahui kelompok tersebut banyak melibatkan anak-anak. Dari data yang ada, setidaknya ada 293 anak dari total 619 orang yang terlibat dalam aksi di Bandung.

Dedi menyampaikan khusus untuk anak-anak, Polda Jawa Barat dan Polrestabes Bandung bakal memanggil para orang tuanya untuk kemudian dilakukan pembinaan.

"Kelompok usia tersebut sangat rentan mencari jati diri, kita melibatkan orang tua, sekolah untuk mengontrol mereka. Kalau mencari jati diri bisa disusupi oleh doktrin kelompok tersebut sangat membahayakan," tutur Dedi.
Selain itu, disampaikan Dedi, sudah ada dua orang yang ditetapkan sebagai tersangka atas kasus kerusuhan saat May Day di Bandung. Aksi kedua tersangka tersebut telah mengakibatkan kerugiaan sekitar Rp3,5 juta. Keduanya pun dijerat dengan pasal 170 KUHP.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan insiden kerusuhan yang terjadi di beberapa daerah saat aksi Hari Buruh, Rabu (1/5) kemarin, dipicu oleh kelompok Anarcho Syndicalism.

Kelompok tersebut, kata Tito, identik dengan aksi vandalisme dengan simbol huruf A. Kelompok itu, lanjutnya, bukanlah fenomena lokal melainkan fenomena internasional yang sudah berkembang di luar negeri.

Tito menyebut kelompok Anarcho Syndicalism itu ada di sejumlah negara, antara lain Rusia, Eropa, Amerika Selatan, serta Asia. Di Indonesia, sambung Tito, diperkirakan baru berkembang beberapa tahun terakhir. Tahun lalu, kelompok itu disebut muncul di Jogja dan Bandung.

"Sekarang juga ada di Surabaya, ada di Jakarta, dan mereka sayangnya melakukan aksi kekerasan, vandalism, coret-coret simbol A, ada yang merusak pagar," ujar Tito, Kamis (2/5).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini