Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Pergerakan Rupiah Stagnan Senin Pagi


Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.450 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Senin (20/5) pagi. Dengan demikian, rupiah tidak bergerak terhadap dolar AS dibandingkan perdagangan Jumat (17/5) lalu.

Pagi ini, sebagian besar mata uang Asia menguat terhadap dolar AS. Sebut saja Won Korea Selatan menguat 0,24 persen, baht Thailand menguat 0,23 persen, peso Filipina sebesar 0,15 persen, dan dolar Singapura sebesar 0,12 persen. Sementara itu, yen Jepang melemah 0,2 persen dan dolar Hong Kong menemani rupiah yang bergerak stagnan terhadap dolar AS hari ini.

Mata uang negara maju juga menguat terhadap dolar AS. Dolar Australia menguat 0,65 persen, poundsterling Inggris menguat 0,14 persen, dan euro menguat 0,07 persen.


Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pergerakan rupiah sejatinya masih terpengaruh oleh sentimen akhir pekan lalu. Salah satunya, yakni perang dagang antara AS dan China.
Kini perang dagang sudah memasuki babak baru. China berniat untuk melepas kepemilikan obligasi negara AS untuk menghancurkan ekonomi AS. Ini dianggap sebagai balasan China atas sikap AS yang menaikkan tarif bea masuk impor secara sepihak.

Saat ini, China memiliki obligasi negara AS sebesar US$1,12 triliun dan sudah melepas US$20,5 miliar. Artinya, aliran modal keluar (outflow) dari AS nantinya bisa berdampak baik bagi mata uang negara lain.

Namun, justru ini mengindikasikan bahwa perang dagang belum usai. "Pola ini berlanjut ketika kedua belah pihak masih belum mampu menyepakati perjanjian dagang," jelas Ibrahim, Senin (20/4).
Sentimen global lain adalah pertumbuhan ekonomi Jepang yang mencatat 2,1 persen pada kuartal I tahun ini. Meski lebih baik dari kuartal sebelumnya yakni 1,6 persen, namun pertumbuhan ekspor tercatat minus 2,4 persen dan konsumsi turun 0,1 persen.

"Untuk hari Senin, rupiah akan diperdagangkan di level Rp14.390 hingga Rp14.470 per dolar AS," kata dia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)