Harga Emas Naik pada Perdagangan Kamis (5/3/2026) Pagi

  Harga emas melanjutkan kenaikan pada perdagangan Kamis (5/3/2026) pagi. Pukul 07.47 WIB, harga emas untuk pengiriman April 2026 di Commodity Exchange ada di US$ 5.182,30 per ons troi, naik 0,93% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 5.134,70 per ons troi. Harga emas kembali naik setelah sempat jeda koreksi. Para pembeli memanfaatkan penurunan harga untuk kembali masuk ke pasar di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik di Timur Tengah . Mengutip Bloomberg , harga emas telah naik sekitar 20% tahun ini, dan mencapai level tertinggi sepanjang masa di atas US$ 5,595 pada akhir Januari. Tingginya permintaan yang didukung oleh ketegangan geopolitik dan kekhawatiran tentang independensi Federal Reserve mendorong kenaikan harga emas. Peter Kinsella , kepala strategi forex global di UBP SA mengatakan, penurunan tajam dan taruhan bullish hedge fund dan manajer investasi seharusnya membatasi penurunan harga emas. "Saya pikir kita pasti akan melihat pemulihan harga emas,...

Ilmuwan China Temukan Spesies Dinosaurus Bersayap Kelelawar


Ilmuwan paleontologi dari Institut Paleontologi dan Paleoantropologi Vertebrata (IVPP) China Min Wang berhasil menemukan spesies baru dinosaurus mirip kelelawar, lengkap dengan tanda-tanda selaput besar di sayapnya. Spesies baru dinosaurus itu diberi nama Ambopteryx.

Ambopteryx masuk ke dalam jajaran spesies aneh dinosaurus nonavian, bersanding dengan spesies Yi Qi dinosaurus pertama yang juga ditemukan dengan sayap mirip kelelawar. Yi Qi sendiri diumumkan secara resmi 2015 silam, seperti dilansir National Geographic.

Wang menjelaskan spesies baru yang ia temukan memiliki elemen styliform seperti batang yang menonjol di pergelangan tangannya. Elemen itu disebut-sebut berfungsi untuk membantu menopang membran sayap yang besar. Selain memiliki elemen styliform, kedua sayapnya memiliki 'film' berwarna kecoklatan.
Pada awalnya, seorang petani lokal menemukan fosil Ambopteryx 2017 silam di sebuah desa dekat Lingyuan, provinsi Liaoning, China. Ketika para peneliti IVPP menemukan fosil itu, mereka mengira Ambopteryx merupakan fosil burung.


Namun, ketika Wang dan tim berhati-hati membuang batu yang menutupi fosil, dia baru menyadari bahwa binatang yang ditemukan bukan burung melainkan seekor dinosaurus yang diperkirakan berusia 160 juta tahun.

Para peneliti juga mengungkapkan bagaimana dinosaurus Ambopteryx bertahan hidup, Wang beranggapan bahwa kemungkinan besar Ambopteryx termasuk ke dalam kelompok omnivora. Hal itu didasarkan pada bentuk tubuhnya yang mengandung batu-batu ampela, persis seperti pada burung pemakan tumbuhan saat ini.

Selain itu, Wang dan tim meninjau lebih jauh seberapa baik Ambopteryx terbang pada saat itu. Pada bagian kaki menunjukkan bahwa Ambopteryx berevolusi untuk bertengger di pohon. Wang berpikir, dinosaurus itu berperilaku seperti tupai dan sugar glider.
"Mungkin Ambopteryx memanjat di pepohonan seperti tupai dan kemudian terbang dari cabang ke cabang," kata Jingmai O'Connor, peneliti lain dari IVPP.

Spesies dinosaurus Ambopteryx disebut-sebut menjadi penemuan yang cukup kuat untuk mengembangkan penelitian bagaimana ia dapat terbang, seperti dilansir CNET. Penemuan fosil ini masih banyak dipertanyakan para peneliti karena mereka yakin akan banyak fosil dinosaurus yang memiliki sayap seperti burung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025