Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Ilmuwan China Temukan Spesies Dinosaurus Bersayap Kelelawar


Ilmuwan paleontologi dari Institut Paleontologi dan Paleoantropologi Vertebrata (IVPP) China Min Wang berhasil menemukan spesies baru dinosaurus mirip kelelawar, lengkap dengan tanda-tanda selaput besar di sayapnya. Spesies baru dinosaurus itu diberi nama Ambopteryx.

Ambopteryx masuk ke dalam jajaran spesies aneh dinosaurus nonavian, bersanding dengan spesies Yi Qi dinosaurus pertama yang juga ditemukan dengan sayap mirip kelelawar. Yi Qi sendiri diumumkan secara resmi 2015 silam, seperti dilansir National Geographic.

Wang menjelaskan spesies baru yang ia temukan memiliki elemen styliform seperti batang yang menonjol di pergelangan tangannya. Elemen itu disebut-sebut berfungsi untuk membantu menopang membran sayap yang besar. Selain memiliki elemen styliform, kedua sayapnya memiliki 'film' berwarna kecoklatan.
Pada awalnya, seorang petani lokal menemukan fosil Ambopteryx 2017 silam di sebuah desa dekat Lingyuan, provinsi Liaoning, China. Ketika para peneliti IVPP menemukan fosil itu, mereka mengira Ambopteryx merupakan fosil burung.


Namun, ketika Wang dan tim berhati-hati membuang batu yang menutupi fosil, dia baru menyadari bahwa binatang yang ditemukan bukan burung melainkan seekor dinosaurus yang diperkirakan berusia 160 juta tahun.

Para peneliti juga mengungkapkan bagaimana dinosaurus Ambopteryx bertahan hidup, Wang beranggapan bahwa kemungkinan besar Ambopteryx termasuk ke dalam kelompok omnivora. Hal itu didasarkan pada bentuk tubuhnya yang mengandung batu-batu ampela, persis seperti pada burung pemakan tumbuhan saat ini.

Selain itu, Wang dan tim meninjau lebih jauh seberapa baik Ambopteryx terbang pada saat itu. Pada bagian kaki menunjukkan bahwa Ambopteryx berevolusi untuk bertengger di pohon. Wang berpikir, dinosaurus itu berperilaku seperti tupai dan sugar glider.
"Mungkin Ambopteryx memanjat di pepohonan seperti tupai dan kemudian terbang dari cabang ke cabang," kata Jingmai O'Connor, peneliti lain dari IVPP.

Spesies dinosaurus Ambopteryx disebut-sebut menjadi penemuan yang cukup kuat untuk mengembangkan penelitian bagaimana ia dapat terbang, seperti dilansir CNET. Penemuan fosil ini masih banyak dipertanyakan para peneliti karena mereka yakin akan banyak fosil dinosaurus yang memiliki sayap seperti burung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)