Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Ilmuwan China Temukan Spesies Dinosaurus Bersayap Kelelawar


Ilmuwan paleontologi dari Institut Paleontologi dan Paleoantropologi Vertebrata (IVPP) China Min Wang berhasil menemukan spesies baru dinosaurus mirip kelelawar, lengkap dengan tanda-tanda selaput besar di sayapnya. Spesies baru dinosaurus itu diberi nama Ambopteryx.

Ambopteryx masuk ke dalam jajaran spesies aneh dinosaurus nonavian, bersanding dengan spesies Yi Qi dinosaurus pertama yang juga ditemukan dengan sayap mirip kelelawar. Yi Qi sendiri diumumkan secara resmi 2015 silam, seperti dilansir National Geographic.

Wang menjelaskan spesies baru yang ia temukan memiliki elemen styliform seperti batang yang menonjol di pergelangan tangannya. Elemen itu disebut-sebut berfungsi untuk membantu menopang membran sayap yang besar. Selain memiliki elemen styliform, kedua sayapnya memiliki 'film' berwarna kecoklatan.
Pada awalnya, seorang petani lokal menemukan fosil Ambopteryx 2017 silam di sebuah desa dekat Lingyuan, provinsi Liaoning, China. Ketika para peneliti IVPP menemukan fosil itu, mereka mengira Ambopteryx merupakan fosil burung.


Namun, ketika Wang dan tim berhati-hati membuang batu yang menutupi fosil, dia baru menyadari bahwa binatang yang ditemukan bukan burung melainkan seekor dinosaurus yang diperkirakan berusia 160 juta tahun.

Para peneliti juga mengungkapkan bagaimana dinosaurus Ambopteryx bertahan hidup, Wang beranggapan bahwa kemungkinan besar Ambopteryx termasuk ke dalam kelompok omnivora. Hal itu didasarkan pada bentuk tubuhnya yang mengandung batu-batu ampela, persis seperti pada burung pemakan tumbuhan saat ini.

Selain itu, Wang dan tim meninjau lebih jauh seberapa baik Ambopteryx terbang pada saat itu. Pada bagian kaki menunjukkan bahwa Ambopteryx berevolusi untuk bertengger di pohon. Wang berpikir, dinosaurus itu berperilaku seperti tupai dan sugar glider.
"Mungkin Ambopteryx memanjat di pepohonan seperti tupai dan kemudian terbang dari cabang ke cabang," kata Jingmai O'Connor, peneliti lain dari IVPP.

Spesies dinosaurus Ambopteryx disebut-sebut menjadi penemuan yang cukup kuat untuk mengembangkan penelitian bagaimana ia dapat terbang, seperti dilansir CNET. Penemuan fosil ini masih banyak dipertanyakan para peneliti karena mereka yakin akan banyak fosil dinosaurus yang memiliki sayap seperti burung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini