Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

BTN Incar 85 Persen Saham Entitas PNM pada 2020


PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN mengincar porsi kepemilikan saham anak usaha PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Persero, yakni PT Permodalan Nasional Madani Investment Management (PNMIM) hingga 85 persen. Dengan demikian, perseroan akan menjadi pemegang saham mayoritas PNMIM.

"Memang kami dapat persetujuan ambil alih saham PNMIM mencapai mayoritas kurang lebih maksimal bisa 85 persen (saham). Tetapi itu maksimal, yang penting adalah mayoritas," kata Direktur Utama BTN Maryono di kantornya.

Ia menjelaskan pembelian saham itu akan dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama, BTN akan mengakuisisi 30 persen saham PNMIM yang ditargetkan selesai pada Juni 2019. Untuk tahap awal ini, perseroan telah menandatangani Perjanjian Pembelian Saham Bersyarat atau Conditional Shares Purchase Agreement (CSPA) pada Senin (22/4) silam.
Rencana akuisisi telah disetujui pemegang saham pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2018. BTN pun merogoh kocek hingga Rp114,3 miliar untuk pembelian saham tahap awal.

Akan tetapi, lanjutnya, proses akuisisi saham terlebih dulu harus mengantongi izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Perseroan pun telah melayangkan rencana pembelian saham PNMIM kepada OJK usai penandatangan CSPA.

"Pencapaian pemilikan ini dilakukan dalam tahapan, tapi ini diawali dengan persetujuan dari regulator, OJK. Ini penting sekali karena semua yang kami lakukan harus dapat persetujuan regulator," katanya.
Tahapan kedua, BTN akan kembali membeli 30 persen saham PNMIM sehingga porsi kepemilikan sahamnya menjadi 60 persen.

Direktur Finance, Treasury, and Strategy BTN Nixon L.P Napitupulu menuturkan rencananya pembelian 30 persen saham tahap kedua akan dilakukan sebelum akhir tahun 2019. Namun, dua belah pihak belum menentukan besaran valuasi saham lantaran membutuhkan proses audit laporan keuangan PNMIM.

"Akuisisi minoritas menjadi mayoritas itu harganya tidak sama, valuasinya beda. Ini (valuasi) sedang dilakukan berdasarkan laporan keuangan terakhir posisi Maret atau Mei 2019," jelasnya.

Selanjutnya, tahapan ketiga direncanakan bisa dilakukan tahun depan. Dalam tahap akhir, BTN akan meningkatkan porsi saham menjadi mayoritas, dimana maksimal porsinya menjadi 85 persen. Akan tetapi, ia bilang mekanisme akuisisi tahap akhir ini bisa berbeda dari akuisisi tahap pertama dan kedua.


"Belum tentu kami beli langsung (saham PNMIM) dari PNM. Bisa jadi PNMIM melakukan right issue, kemudian kami beli sehingga kami nanti jadi pemegang saham sampai 85 persen," katanya.

Aksi korporasi ini sudah masuk dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) periode 2019-2021. Aksi ini diyakini akan memperluas bisnis perseroan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025