Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Indeks Dolar Bergerak Naik ke Level 99, Terangkat Sentimen The Fed

  BPF Indeks dolar Amerika Serikat (AS) bertengger di kisaran 99,73 pada hari Kamis (31/7), mendekati level tertinggi dalam dua bulan. Ini setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga tetap di kisaran 4,25%–4,5%.  Ketua The Fed, Jerome Powell, menegaskan kembali bahwa masih terlalu dini untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga. Menyusul pernyataannya, pasar mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga tahun ini. Kini pasar memperkirakan pelonggaran bunga acuan hanya 35 basis poin (bps) pelonggaran pada bulan Desember.  Seperti dikutip Tradingeconomics, Kamis (31/7), investor juga mempertimbangkan data AS yang lebih kuat dari perkiraan, dengan pertumbuhan PDB dan lapangan kerja swasta yang melampaui perkiraan.  Perhatian investor kini tertuju pada data inflasi PCE dan klaim pengangguran yang akan rilis hari ini (31/7), diikuti oleh laporan ketenagakerjaan bulan Juli pada hari Jumat (1/8).  Sementara dari perkembangan tarif perdagangan, AS men...

Unilever Indonesia (UNVR) Umumkan Buyback Saham Senilai Maksimal Rp 2 Triliun

BPF PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mengumumkan rencana pembelian kembali ( buyback ) saham yang telah dikeluarkan dan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan nilai maksimal sebesar Rp 2 triliun. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam keterbukaan informasi kepada BEI pada Kamis (31/7). Aksi korporasi ini direncanakan berlangsung selama maksimal tiga bulan sejak hari ini. Manajemen UNVR menyampaikan bahwa pelaksanaan buyback tidak akan memberikan dampak negatif terhadap pendapatan maupun kegiatan operasional perseroan. “Buyback merupakan bagian dari strategi pengelolaan modal yang bertanggung jawab. Hal ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek fundamental dan kinerja keuangan jangka panjang perseroan,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi. Buyback saham juga kerap dipandang sebagai sinyal positif bagi pasar, sekaligus menunjukkan keseriusan perusahaan dalam mengelola portofolio ekuitasnya secara aktif. Langkah ini sejalan dengan...

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 16.441 Per Dolar AS di Pagi Ini (31/7), Asia Bervariasi

  BPF  Nilai tukar rupiah di pasar spot melemah di awal perdagangan hari ini. Kamis (31/7), rupiah spot dibuka di level Rp 16.441 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,22% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 16.405 per dolar AS.  Hingga pukul 09.08 WIB, pergerakan mata uang di Asia cenderung bervariasi. Di mana, peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan setelah anjlok 0,81%. Berikutnya, dolar Taiwan terkoreksi 0,61% dan ringgit Malaysia terlihat melemah 0,26% di pagi ini. Sementara itu, yen Jepang menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,4%. Disusul, dolar Singapura yang naik 0,22%. Selanjutnya ada baht Thailand yang terkerek 0,13%. Lalu ada yuan China dan won Korea Selatan yang sama-sama terangkat 0,07%. Kemudian, dolar Hongkong terlihat menguat tipis 0,003% terhadap the greenback saham

Bukalapak (BUKA) Catat Pendapatan Rp 1,6 Triliun pada Kuartal II-2025

  PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) telah merilis hasil kinerja keuangannya selama kuartal II 2025. Perseroan membukukan pertumbuhan pendapatan secara kuartalan yang apik selama periode tersebut. Tercatat, pendapatan perusahaan meningkat sebesar 12% secara kuartalan (QoQ), dari Rp 1,5 triliun pada kuartal I 2025 menjadi Rp 1,6 triliun di kuartal II-2025. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh peningkatan dari segmen gaming dan investasi. Segmen gaming menyumbang pendapatan sebesar Rp 1.360 miliar, tumbuh 24% secara kuartalan. Sementara itu, segmen investasi menghasilkan pendapatan Rp 14 miliar, meningkat 13% secara kuartalan, dengan margin kontribusi di atas 30%.  Sementara itu, segmen retail dan mitra BUKA berhasil mempertahankan margin kontribusi di kisaran 27,6% pada kuartal II 2025. Direktur PT Bukalapak.com Tbk Victor Putra Lesmana mengatakan, pihaknya menyambut baik momentum positif ini berlanjut sejak awal tahun 2025.  “Hal ini mencerminkan bahwa tr...