Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Penjualan Melesat 283%, J Resources (PSAB) Kembali Raih Laba Bersih di Kuartal I-2024

 

Emiten pertambangan emas, PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) mencatat penjualan emas pada kuartal I-2024 sebesar US$ 62,83 juta atau melonjak 283% dibandingkan dengan penjualan di kuartal I-2023 yang sebesar US$ 22,20 juta.

Direktur Utama PSAB Edi Permadi mengatakan, kenaikan penjualan ini didukung oleh kenaikan jumlah produksi. Di mana, jumlah produksi PSAB pada kuartal I-2024 sebanyak 33.272 ons troi atau naik sebanyak 17.776 ons troi dibandingkan dengan jumlah produksi pada kuartal I-2023 sebesar 15.497 ons troi atau melesat 251%.

Kinerja yang baik juga didukung oleh kenaikan harga jual emas rata-rata pada kuartal I-2024 sebesar 13% dibandingkan dengan harga jual emas rata-rata pada kuartal I-2023.

Pencapaian produksi pada kuartal I-2024 sudah mencapai 35,5% dari total produksi pada tahun 2023, di mana total produksi pada tahun 2023 adalah sebesar 93.744 ons troi.

Dengan hasil itu, PSAB mencatat laba kotor pada kuartal I-2024 sebesar US$ 24,74 juta atau naik 179% dibandingkan dengan kuartal I-2023 yang senilai US$ 13,79 juta.

Sedangkan laba operasional perusahaan pada kuartal I-2024 sebesar US$ 12,19 juta naik 243% dibandingan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar US$ 5,014 juta.

Alhasil, PSAB cetak laba bersih sebesar US$ 4,56 juta di kuartal I-2024. Padahal di periode yang sama di tahun 2023, PSAB masih cetak rugi bersih sebesar US$ 13,64 juta.

Edi menuturkan, PSAB mempunyai beberapa inisiatif strategis pada 2024. Pertama, melakukan kegiatan eksplorasi atas prospek baru di tambang Bakan untuk mewujudkan kinerja jangka panjang.

Kedua, harga jual emas dengan tren menguat akan membuka lebih banyak peluang untuk mengoptimalisasi cadangan emas agar memberi margin yang ekonomis.

"Kami akan bekerja keras memanfaatkan momentum ini sehingga peningkatan kinerja ini dapat terus dipertahankan," ujar Edi dalam keterangan resminya, Kamis (6/6).

Asal tahu saja, PSAB mengoperasikan tambang emas di Bakan (Sulawesi Utara) dan Penjom (Malaysia). Selain tambang aktif, PSAB memiliki satu tambang dalam tahapan pengembangan, yaitu Proyek Doup yang berlokasi di Sulawesi Utara.

PSAB melakukan operasi penambangan secara terintegrasi yang mencakup aktivitas penambangan dan pengolahan di setiap lokasi tambang, dengan dukungan hampir 3.000 karyawan dan kontraktor. Terhitung sejak pertengahan 2011 hingga Desember 2023, PSAB mencapai total produksi emas keseluruhan lebih dari 1,87 juta ons troi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025