Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Bursa Asia Bervariasi, Pasar Menanti Data dari China dan Jepang

 

Bursa Asia dibuka bervariasi dengan kecenderungan menguat pada hari ini. Jumat (7/6), pukul 08.23 WIB, indeks Nikkei 225 turun 0,08% ke 38.672,43. Sedangkan, indeks Hang Seng menguat 0,46% ke 18.562,48.

Sementara itu, indeks Taiex turun 0,24% menjadi 21.850,77. Sementara itu, Kospi menguat 0,81% ke 2.711,38 dan indeks S&P/ASX 200 naik 0,20% ke 7.837,1.

Di sisi lain, FTSE Straits Times naik 0,24% ke 3.338,8. Sedangkan FTSE Malay terlihat menguat 0,27% ke 1.619,14.

Bursa Asia cenderung menguat karena investor menunggu data ekonomi utama dari China dan Jepang. Selain itu, pasar juga menilai penurunan suku bunga European Central Bank (ECB).

Ekspor China pada bulan Mei 2024 diperkirakan akan melonjak 6% YoY, menurut jajak pendapat para ekonom Reuters, naik dari kenaikan 1,5% yang terlihat pada bulan April.

Impor China juga diperkirakan meningkat 4,2% YoY, lebih lambat dibandingkan kenaikan 8,4% di bulan April.

Jepang juga merilis angka pengeluaran rumah tangga untuk bulan April 2024, sebuah metrik utama untuk menilai apakah “siklus baik” yang diharapkan Bank of Japan berupa kenaikan upah dan harga sedang berlangsung.

Pengeluaran konsumsi bulanan rata-rata per rumah tangga pada bulan April adalah 313.300 yen, naik 3,4% secara nominal dan naik 0,5% secara riil. Hal ini menandai kenaikan pertama dalam belanja rumah tangga riil sejak Februari 2023.

Gaji di bulan April adalah hal yang penting untuk diperhatikan karena kenaikan upah biasanya mulai berlaku pada bulan ini ketika perusahaan-perusahaan Jepang memulai kembali tahun keuangan mereka.

Semalam di AS, pasar masih dalam kisaran terbatas karena para pedagang menantikan laporan nonfarm payrolls bulan Mei yang akan dirilis pada hari Jumat, dengan investor mencari tanda-tanda melemahnya pasar tenaga kerja, yang dapat mendukung penurunan suku bunga dari Federal Reserve.

Indeks S&P 500 ditutup melemah tipis, setelah mencapai level tertinggi intraday sepanjang masa pada hari sebelumnya. Indeks Nasdaq Composite juga melemah 0,09%, dan Dow Jones Industrial Average naik 0,2%.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini