Menteri Ara dan Nusron Sepakat Sertifikasi Gratis untuk Rumah MBR

  Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) bersama dengan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid sepakat menetapkan sertifikasi sektor perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) secara gratis. Hal tersebut diungkapkan dalam pertemuan Menteri PKP Maruarar Sirait dengan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di Ruang Rapat Menteri ATR/BPN, Jakarta, Selasa (14/7/2026). Ara juga mengapresiasi terobosan Kementerian ATR/BPN dalam menghadirkan program sertifikasi gratis bagi masyarakat berpenghasilan rendah. "Terobosan kolaborasi yang juga luar biasa dengan Pak Nusron adalah sertipikasi gratis bagi MBR. Itu merupakan karya dan dukungan yang luar biasa dari Menteri ATR/BPN bagi rakyat kecil," ujar dia dikutip dari keterangan resmi. Menteri Ara menuturkan, sinergi tersebut akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat karena tidak hanya memberikan kepastian...

Aset Berisiko Berpotensi Menguat di Semester II 2024

 

Aset-aset berisiko di pasar keuangan domestik memiliki potensi yang lebih baik di semester II. Potensi risiko risk-on di pasar keuangan global menjadi pendorongnya.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, pada semester I 2024, pasar keuangan domestik banyak dipengaruhi dari perubahan ekspektasi investor terkait pemangkasan suku bunga Amerika Serikat (AS). Ini sejalan dengan data ekonomi AS yang masih solid.

Josua berpandangan, sentimen terkait arah ekonomi AS diperkirakan masih mendominasi pasar keuangan global pada semester II. "Namun dengan arah yang cenderung berbeda dibandingkan dengan sentimen pada semester I," ujar dia kepada Kontan.co.id, Selasa (25/6).

Perbedaan ini disebabkan oleh proyeksi bahwa ekonomi AS diperkirakan akan mengalami perlambatan, terutama dari sisi inflasi dan tenaga kerja. Sehingga, ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed akan meningkat.

Sentimen tersebut berpotensi mendorong peningkatan permintaan aset-aset berisiko di pasar keuangan, termasuk di dalamnya aset keuangan berdenominasi rupiah, seperti saham dan SBN. "Dengan kondisi tersebut, aset-aset berisiko memiliki potensi yang relatif baik pada semester mendatang," sebutnya.

Apalagi, lanjut Josua, sentimen dari AS pada umumnya akan mendorong yield US Treasury. Selain itu, aset emas juga berpotensi menguat terbatas seiring dengan melemahnya dolar AS.

Di sisi lain, risiko yang perlu diantisipasi di antaranya, ketidakpastian terkait perekonomian China. Utamanya, melihat bahwa aktivitas perdagangannya masih dibayangi oleh ancaman perang dagang dari AS dan Eropa.

"Perekonomian China yang melemah berpotensi mendorong kehati-hatian dari sisi investor," sambungnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini