Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Tel Aviv Diroket, Israel Bombardir Jalur Gaza


Bestprofit-- Israel membombardir Jalur Gaza melalui udara pada Jumat (15/3), beberapa jam setelah kota Tel Aviv diserbu dengan roket dari arah Palestina.

Sejumlah saksi mata mengaku mendengar suara ledakan kuat dari arah Israel melancarkan serangan udara. Mereka kemudian melihat kilatan dari arah ledakan di sejumlah gedung yang menjadi sasaran.

Militer Israel menyatakan bahwa mereka membombardir enam gedung yang merupakan "situs-situs teror" di Gaza.


Mereka pun menyalakan sirene roket di sekitar wilayah yang dipadati warga Israel di Jalur Gaza sebagai langkah antisipasi jika bentrokan semakin besar.
Sirene peringatan serupa sebelumnya menggema di salah ibu kota komersil Israel, Tel Aviv, setelah dua roket dari arah Jalur Gaza dilaporkan menghantam wilayah itu.

Serangan itu tak menjatuhkan korban. Namun, insiden tersebut dapat mencoreng nama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menjelang pemilihan umum pada 9 April mendatang. Dalam kampanyenya, Netanyahu selalu mempromosikan keamanan negara.

Warga Tel Aviv mengaku panik ketika mendengar ledakan saat rudal pencegat roket ditembakkan. Namun, menurut militer, tak ada roket yang berhasil mereka cegah.
Ini merupakan kali pertama Tel Aviv diserang sejak perang antara Hamas dan Israel pada 2014 lalu. Setelah itu, memang ada sejumlah bentrokan kecil, tapi tidak sampai melibatkan roket.

"Pada dasarnya, ini sangat mengejutkan," ujar juru bicara militer Israel, Ronen Manelis, sebagaimana dikutip Reuters.

Manelis mengatakan bahwa Israel belum mengetahui pihak mana yang bertanggung jawab atas serangan roket tersebut.

Namun, seorang juru bicara militer Israel lainnya sebelumnya sudah melontarkan tudingan bahwa kelompok Hamas adalah dalang di balik serangan roket itu.
Hamas menampik tudingan tersebut dengan dalih para pemimpin mereka sedang bertemu dengan delegasi Mesir untuk membicarakan kemungkinan gencatan senjata jangka panjang dengan Israel.

Dua faksi kecil di Jalur Gaza, Islamic Jihad dan Komite Pertahanan Populer, juga mengaku tak mengetahui pihak yang melakukan serangan ke Tel Aviv tersebut.

Sejumlah analis memperkirakan serangan ini dilakukan oleh faksi-faksi kecil lain di Palestina yang menentang kesepakatan antara Hamas dan Israel.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025