Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Negosiasi AS-China Masih Buntu, Harga Minyak Brent Melemah


bbestprofit-- Harga minyak mentah berjangka Brent melemah sepanjang pekan lalu. Pelemahan disebabkan oleh minimnya progres pembahasan kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China. Selain itu, menurunnya kinerja perindustrian di Jerman dan AS juga memantik kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dan Permintaan minyak global.

Dilansir dari Reuters, Senin (25/3), harga minyak mentah berjangka Brent pada perdagangan Jumat (22/3) lalu ditutup di level US$67,3 per barel atau merosot sekitar 0,2 persen sepanjang pekan lalu. Pada perdagangan Kamis (21/3), harga Brent sempat menyentuh level tertingginya dalam empat bulan terakhir US$68,69.

Sejak awal Januari 2019, harga Brent telah menguat lebih dari 20 persen. Penguatan disebabkan oleh kebijakan pemangkasan produksi yang dilakukan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia. Selain itu, penguatan juga dipicu oleh pengenaan sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela.


Sementara itu, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sepanjang pekan lalu tercatat menguat 0,8 persen menjadi US$59,04 per barel. Sama dengan Brent, WTI menyentuh level tertingginya untuk tahun ini pada perdagangan Kamis (21/3), di level US$60,39 per barel.

Pada Jumat (22/3) lalu, indeks utama Wall Street melemah di kisaran 1 hingga 2 persen setelah data manufaktur (PMI) untuk Maret 2019 menunjukkan kinerja buruk di Eropa, Jepang, dan AS. Sejumlah survei menyimpulkan tensi perdagangan telah mempengaruhi output pabrik dan memupus harapan akan membaiknya laju pertumbuhan ekonomi global.
"Data PMI di Jerman dan Perancis yang mengecewakan hari ini (Jumat (22/3)) telah memicu kenaikan dolar AS dan di saat bersamaan juga menekan selera global akan risiko," ujar Pimpinan Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch.

Nilai tukar dolar AS terhadap euro merangkak ke level tertingginya untuk lebih dari sepekan pada perdagangan Jumat (22/3) lalu. Penguatan dolar membuat harga minyak menjadi reltif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

"Fakta bahwa faktor-faktor makro ini mampu mengimbangi dampak laporan Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) yang bersifat mendongkrak harga (bullish) membuktikan kerapuhan kenaikan harga minyak pada tiga bulan terakhir," ujar Ritterbusch.

Pada Rabu (20/3) lalu, data EIA menunjukkan persediaan minyak mentah AS merosot 10 juta barel pada pekan sebelumnya. Penurunan yang dipicu oleh kuatnya ekspor dan permintaan kilang tersebut merupakan yang terbanyak sejak Juli 2018.

Di tengah perlambatan eksonomi di Asia, Eropa, dan Amerika Utara yang berpotensi menekan konsumsi bahan bakar, tidak ada progres yang signifikan pada pembahasan perdagangan antara AS dan China. Perwakilan kedua negara dijadwalkan bertemu pada 28-29 Maret 2019.
Dalam sebuah wawancara yang disiarkan sebuah stasiun televisi Jumat (22/3) lalu, Presiden AS Donald Trump menyatakan negosiasi perdagangan antara AS dan China terus mencatat kemajuan dan kesepakatan akhir mungkin tercapai.

Jajak pendapat Reuters menunjukkan tiga dari empat perusahaan Jepang memperkirakan friksi perdagangan AS-China akan terjadi setidaknya sampai akhir tahun.

Lonjakan produksi lebih dari 2 juta barel per hari (bph) pada produksi minyak mentah AS sejak awal 2018 telah membuah AS sebagai negara produsen minyak mentah terbesar dunia di level 12,1 juta bph. Produksi AS mengungguli Rusia dan Arab Saudi.

Kondisi tersebut mendongrak ekspor minyak AS. Tahun lalu, ekspor minyak AS telah melonjak dua kali lipat menjadi lebih dari 3 juta bph. Badan Energi Internasional (EIA) memperkirakan AS menjadi negara net eksportir minyak mentah pada 2021.

Pekan lalu, perusahaan energi AS mengurangi jumlah rig yang beroperasi untuk lima pekan berturut-turut. Sebanyak sembilan rig minyan dipangkas sehingga jumlah rig berada di level terendahnya untuk hampir setahun terakhir. Penurunan terjadi seiring produsen independen menjalankan rencana untuk mengurangi belanja seiring pemerintah AS yang memangkas proyeksi produksi minyak shale.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini