Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

14 Persen Perusahaan Indonesia Gunakan Kecerdasan Buatan


BESTPROFIT - Sebanyak 14 persen perusahaan atau organisasi di Indonesia sudah mengadopsi teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Studi yang dilakukan oleh Microsoft Indonesia dengan IDC Asia Pasifik ini telah melakukan wawancara dengan 112 pemimpin bisnis dan 101 karyawan di Indonesia yang bergerak di bidang otomotif, manufaktur, startup hingga industri energi.

Presiden Direktur Microsoft Indonesia Haris Izmee mengungkap 14 persen perusahaan telah mengadopsi AI dalam core strategi mereka.
"14 persen organisasi atau perusahaan di Indonesia sudah mulai mengadopsi AI di dalam core strategi mereka. Data 42 persen dalam perjalanan atau sudah ada rencana mulai uji coba dengan teknologi AI, yang mana itu bagus," ujar Haris pada acara Media Briefing di The Ritz-Carlton, Jakarta, Selasa (12/3).


Pilihan redaksi
www.ptbestprofit.com
www.ptbestprofitfutures.com
www.pt-bestprofit.com


"Data 42 persen dalam perjalanan atau sudah ada rencana mulai uji coba dengan teknologi AI, yang mana itu bagus," sambungnya.

Masih rendahnya penerapan teknologi AI ini disebabkan oleh adanya perbedaan pandangan antara pemimpin dan karyawan. Pasalnya, masih banyak pekerja yang skeptis terhadap adopsi kecerdasan buatan di Indonesia.

Melihat kendala tersebut, Microsoft Indonesia berupaya untuk mengubah pola pikir masyarakat soal teknologi kecerdasan buatan ini.

"Bagi Microsoft, AI adalah tentang meningkatkan kecerdikan manusia bukan menggantikan manusia secara keseluruhan. Pola pikir seperti inilah yang kami bangun dan sosialisasikan ke masyarakat," jelas Haris.
Lebih lanjut, hasil studi Microsoft Indonesia dan IDC Asia Pasifik menunjukkan bahwa para pemimpin bisnis menyadari pentingnya kegiatan re-skilling dan re-training demi meningkatkan kapabilitas karyawan untuk menghadapi perubahan lanskap bisnis.

Hasil menunjukkan bahwa 81 persen pelaku bisnis memprioritaskan pemberdayaan keterampilan karyawan di masa depan melalui alokasi investasi.

"Namun, 48 persen pemimpin bisnis belum menerapkan rencana untuk membantu karyawan mereka memperoleh keterampilan. Sebanyak 20 persen pemimpin bisnis merasa karyawan tidak tertarik untuk mengembangkan keterampilan baru," tutur Haris.

Sebagai informasi, Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dapat menciptakan pekerjaan-pekerjaan baru untuk manusia.
Adanya pekerjaan-pekerjaan baru itu, turut didampingi oleh transformasi keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan pekerjaan. Baik di bidang keterampilan teknis seperti pemrograman dan juga soft skills.

"Microsoft melihat tingginya permintaan terhadap keterampilan soft skills, menandakan bahwa teknologi berbasis AI masih membutuhkan peran manusia, bukan menggantikan manusia," kata dia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025