Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Staf PBB dari RI Jadi Korban Dalam Insiden Ethiopian Airlines


BESTPROFIT - Kementerian Luar Negeri RI mengkonfirmasi satu warga Indonesia turut menjadi korban tewas dalam kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines yang jatuh kemarin di Ethiopia. Mendiang bernama Harina Hafitz yang merupakan staf Program Pangan Dunia (WFP) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertugas di Roma, Italia.

"Kemlu telah mendapatkan konfirmasi bahwa korban WNI adalah seorang perempuan yang tinggal di Roma Italia dan bekerja untuk World Food Program (WFP) PBB," papar juru bicara Kemlu RI, Arrmanatha Nasir, melalui pernyataan yang diterima CNNIndonesia.com pada Senin (11/3).

Arrmanatha menuturkan Duta Besar RI di Roma telah bertemu dengan keluarga korban dan menyampaikan kabar duka tersebut.


Pilihan redaksi
www.ptbestprofit.com
www.ptbestprofitfutures.com
www.pt-bestprofit.com


Armanatha mengatakan KBRI Roma akan terus berkoordinasi dengan keluarga korban, KBRI Addis Ababa di Ethiopia, dan kantor WFP Roma untuk kepengurusan jenazah dan dukungan bagi keluarga.
Menurut Direktur Eksekutif WFP PBB, David Beasley, sejumlah stafnya juga turut menjadi korban dalam kecelakaan itu. Mereka adalah Ekta Adhikari (Nepal), Maria Pilar Buzzetti (Italia), Virginia Chimenti (Italia), Zhen-Zhen Huang (China), Michael Ryan (Irlandia), dan Djordje Vdovic (Serbia).

Pesawat Boeing 737 MAX 8 milik Ethiopian Airlines jatuh tak jauh dari di ibu kota Ethiopia, Addis Ababa, saat hendak menuju Nairobi, Kenya, 10 Maret 2019.

Pesawat itu mengangkut 157 penumpang dari 32 negara dan seluruhnya dipastikan tewas dalam kecelakaan itu.

Sebanyak 32 korban berkewarganegaraan Kenya, 18 Kanada, sembilan Etiopia, delapan Italia, delapan China, delapan Amerika Serikat, tujuh Inggris, tujuh Perancis, enam Mesir, lima Belanda, empat India, empat Slovakia, tiga Austria, tiga Swedia, tiga Rusia, dua Maroko, dua Spanyol, dua Polandia, dan dua Israel.

Sementara masing-masing satu korban berasal dari Indonesia, Belgia, Somalia, Norwegia, Serbia, Togo, Mozambik, Rwanda, Sudan, Uganda, dan Yaman.

Selain itu, empat korban lainnya memegang paspor Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang belum teridentifikasi kewarganegaraannya.

Hasil penyelidikan sementara, pilot Ethiopian Airlines dengan nomor penerbangan 302 itu sempat meminta untuk kembali, setelah beberapa menit lepas landas dari bandara Bole di Addis Ababa pada pukul 08.38 pagi waktu setempat.
Pesawat yang digunakan sama dengan yang disewa oleh maskapai Lion Air dengan kode penerbangan PK-LQP yang jatuh di perairan Tanjung, Karawang, Jawa Barat pada 29 Oktober 2018 silam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini