Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Arab Saudi Pangkas Ekspor, Harga Minyak Dunia 'Perkasa'


BESTPROFIT - Harga minyak mentah dunia menguat pada perdagangan Selasa (12/3), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan ditopang oleh rencana pemangkasan ekspor minyak Arab Saudi yang menjadi sinyal mengetatnya pasokan. Selain itu, pemerintah AS juga mengoreksi proyeksi pertumbuhan produksi minyak mentah domestik.

Dilansir dari Reuters, Rabu (13/3), harga minyak mentah berjangka Brent naik US$0,09 atau 0,1 persen menjadi US$66,67 per barel. Penguatan juga dialami oleh harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,08 atau 0,1 persen menjadi US$56,87 per barel. Sejak awal tahun, kedua harga acuan telah menguat sekitar 25 persen.

Pemerintah Arab Saudi berencana memangkas ekspor minyak mentah bulan depan menjadi di bawah 7 juta barel per hari (bph). Di saat bersamaan, produksi akan tetap dijaga di bawah 10 juta bph. Hal itu dilakukan untuk mengurangi berlimpahnya pasokan demi mendongkrak harga.


Pilihan redaksi
www.ptbestprofit.com
www.ptbestprofitfutures.com
www.pt-bestprofit.com


Arab Saudi telah secara sukarela memangkas produksinya lebih besar dari yang disepakati dalam kesepakatan bersama Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Sumber dari pemerintah Arah Saudi menyatakan produksi bulan depan akan lebih rendah dari rencana produksi sesuai kesepakatan yang semula 10,311 juta bph.
Minggu (10/3) lalu, Menteri Perminyakan Arab Saudi Khalid al-Falih menyatakan terlalu dini untuk mengubah kebijakan pemangkasan produksi OPEC pada pertemuan April mendatang.

Sebelumnya, Pemerintah Uni Emirat Arab juga menyatakan produksi minyak mentah domestik pada Februari lalu melampaui target pemangkasan OPEC dengan realisasi sebesar 119 persen dari target.

Selain itu, harga juga mendapatkan dorongan dari aksi demo di Libya dan sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela.


Sumber Reuters menyatakan perusahaan minyak pelat merah Venezuela PDVSA belum bisa mengembalikan ekspor minyak mentah dari pelabuhan utamanya sejak gangguan listrik pekan lalu.
Di AS, Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menyatakan produksi minyak mentah domestik tahun ini diperkirakan tumbuh lebih lambat dari yang diperkirakan dengan rata-rata sebesar 12,3 juta bph.

"Sebagian hambatan dari upaya OPEC+ berasal dari pertumbuhan produksi minyak AS, terutama minyak shale. Laporan EIA menahan pandangan tersebut dan dalam hal ini laporan bersifat mendorong harga," ujar partner Again Capital LLc John Kilduff di New York.

Kendati demikian, EIA memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global sebesar 40 ribu bph menjadi 1,45 juta bph.

Institut Perminyakan Amerika mencatat persediaan minyak mentah AS turun sebesar 2,6 juta barel menjadi 449 juta untuk pekan yang berakhir 8 Maret 2019. Hal itu di luar dugaan para analis yang memperkirakan kenaikan sebesar 2,7 juta barel.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025