Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Harga Minyak Global Koreksi Imbas Trump Tunda Tarif untuk Meksiko dan Kanada

 

Harga minyak mentah turun pada Selasa (4/2), setelah Presiden AS Donald Trump menyetujui penundaan penerapan tarif tinggi terhadap Meksiko dan Kanada selama sebulan. 

Harga minyak mentah WTI tercatat turun sebesar 75 sen atau 1%, diperdagangkan sekitar US$ 72,41 per barel pada Selasa (4/2).

Analis Dupoin Indonesia Andy Nugraha mengatakan, keputusan Trump menunda pengenaan tarif tersebut mempengaruhi pergerakan harga minyak. 

Hal itu mengingat Meksiko dan Kanada merupakan pemasok minyak asing terbesar ke Amerika Serikat.

"Harga minyak merosot usai Trump menunda tarif Meksiko dan Kanada," ujar Andy dalam risetnya, Selasa (4/2).

Dari sisi geopolitik, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menyatakan telah mencapai kesepakatan untuk meningkatkan penegakan hukum perbatasan. Langkah ini sebagai respons terhadap permintaan Trump untuk menindak tegas imigrasi ilegal dan penyelundupan narkoba.

Andi menjelaskan, respons PM Kanada Justin Trudeau telah mengakibatkan penundaan sementara tarif 25% terhadap Kanada, termasuk tarif 10% pada impor energi, yang semula dijadwalkan berlaku mulai Selasa.

Namun meski terdapat jeda dalam penerapan tarif, analis dari ING menilai Kanada tetap rentan terhadap ketegangan perdagangan dengan Amerika jika tidak segera memperluas opsi ekspornya ke luar negeri.

Pembangunan infrastruktur tambahan, seperti jaringan pipa baru dari ladang minyak ke pelabuhan, menjadi solusi jangka panjang bagi industri energi Kanada untuk mengurangi ketergantungan pada pasar AS.

Di sisi lain, Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Trump berencana untuk berbicara dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam waktu dekat. Diskusi ini dilakukan seiring dengan dimulainya penerapan bea masuk 10% terhadap seluruh barang impor dari China mulai Selasa malam.

Rencana tarif perdagangan ini turut meningkatkan kekhawatiran inflasi di AS, sebagaimana diperingatkan oleh tiga pejabat Federal Reserve. Salah satu pejabat menyatakan bahwa ketidakpastian terhadap prospek harga memerlukan pemotongan suku bunga yang lebih lambat dari perkiraan sebelumnya.

"Suku bunga yang lebih rendah biasanya menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi serta permintaan minyak," kata Andy.

Dari sisi produksi, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) mengadakan pertemuan pada hari Senin untuk membahas seruan Trump dalam meningkatkan produksi minyak. Namun, kelompok ini tetap mempertahankan kebijakannya untuk secara bertahap meningkatkan produksi mulai April.

"Keputusan OPEC+ menjadi faktor tambahan yang dapat mempengaruhi pergerakan harga minyak dalam beberapa waktu ke depan," sambung dia.

Andy menambahkan, investor juga tengah menantikan laporan data stok minyak mingguan AS hingga 31 Januari. Berdasarkan survei Reuters, diperkirakan bahwa persediaan minyak mentah mengalami kenaikan, sementara stok bensin dan sulingan kemungkinan mengalami penurunan.

Secara keseluruhan, kombinasi faktor fundamental dan teknikal menunjukkan bahwa harga minyak WTI masih berada dalam tekanan bearish. Jika tren ini berlanjut, harga berpotensi melemah hingga level US$70 per barel.

"Berdasarkan kombinasi candlestick dan indikator Moving Average, tren bearish kembali mendominasi WTI, menandakan potensi pelemahan lebih lanjut dalam jangka pendek," sebut Andy.

Di sisi lain, jika ada dorongan pembelian yang cukup kuat, harga dapat terkoreksi naik. Perubahan kebijakan perdagangan AS serta perkembangan stok minyak global akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan harga selanjutnya.

Jika terjadi rebound, harga minyak WTI dapat kembali naik dengan target terdekat di kisaran US$ 75 per barel. 

Pergerakan ini dipengaruhi oleh ketidakpastian perdagangan serta faktor fundamental lain, termasuk kebijakan tarif AS terhadap Kanada dan Meksiko.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini