Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Saham Emiten Kesehatan Tertekan, Simak Rekomendasi Analis

 

Indeks kesehatan atau IDX Healthcare terus melemah, tercatat turun 5,69% secara year to date (YTD) ke level 1.373,66 pada akhir perdagangan Kamis (20/2).

Penurunan indeks ini juga sejalan dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun 4,12% secara year to date.

Jika dirinci, sejumlah emiten di sektor kesehatan tengah mengalami penurunan harga saham.

Misalnya, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) turun 11,03% ytd, PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) melemah 9,88% ytd, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), terjun 4,33% dan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) ambles 13,8%.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan menerangkan penurunan indeks sektor ini kemungkinan besar disebabkan oleh rotasi sektor serta tekanan yang terjadi secara menyeluruh di IHSG, yang turut menyeret pergerakan saham-saham kesehatan.

Secara valuasi, saham-saham di sektor kesehatan seperti KLBF, MIKA, HEAL, dan SILO memang cukup premium, sementara pertumbuhan kinerja belum seagresif kenaikan harga sahamnya sebelumnya. 

"Hal ini membuat saham-saham tersebut rentan terkena aksi profit taking di tengah kondisi pasar yang kurang kondusif," ucap Ekky kepada Kontan, Kamis (20/2).

Meskipun ada sentimen cek kesehatan gratis dari pemerintah, dampaknya terhadap emiten kesehatan terbilang minim. Program ini lebih bersifat sosial dan tidak secara langsung meningkatkan pendapatan perusahaan di sektor kesehatan.

"Melihat kondisi saat ini, menurut saya sektor kesehatan masih lebih baik untuk wait and see, sambil menunggu momentum yang lebih kuat untuk masuk," papar Ekky.

Ekky menyarankan entry saham PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) di harga Rp 580-Rp 610 per saham, dengan target harga terdekat di Rp 640-Rp 650 per saham.

Sementara itu, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas Imam Gunadi menyampaikan penurunan yang terjadi pada sektor kesehatan merupakan proses normalisasi harga saham pasca pandemi Covid-19. 

"Selama pandemi, permintaan terhadap layanan kesehatan dan alat medis meningkat tajam, mendorong kinerja positif emiten di sektor ini bahkan saham hingga ditransaksikan di harga yang cukup premium," ujar Imam kepada Kontan, Kamis (20/2).

Seiring meredanya pandemi dan penurunan kasus COVID-19, kebutuhan akan layanan dan produk kesehatan kembali ke tingkat normal, yang berdampak pada penurunan pendapatan beberapa perusahaan di sektor ini dan berimplikasi pada normalisasi harga sahamnya. 

Selain itu, sektor farmasi di Indonesia banyak bergantung pada impor bahan baku. Penguatan dolar Amerika Serikat dapat meningkatkan biaya impor, yang pada gilirannya dapat menekan margin keuntungan perusahaan dan mempengaruhi harga sahamnya.

Imam menambahkan adanya program cek kesehatan gratis berpotensi menjadi sentimen positif bagi emiten yang bergerak di sektor kesehatan. 

Misalnya jika ada warga yang melakukan tes kesehatan membutuhkan vitamin, bisa saja yang menyuplai dari emiten farmasi yang listed, atau ada orang yang melakukan tes kesehatan namun ternyata malah harus dirujuk karena hal tertentu ke rumah sakit, jadi emiten rumah sakit juga akan terdampak positif. 

Secara umum, program ini sebenarnya bagus untuk sektor kesehatan, namun bagaimana implikasi pada kinerja perusahaan, perlu menunggu terlebih dahulu minimal di kuartal II-2025 atau kuartal III-2025 untuk melihat implikasinya pada kinerja perusahaan.

Imam juga menjelaskan selama masih tinggi ketidakpastian atas inflasi dan suku bunga yang mengakibatkan rupiah tertekan, investor sebaiknya mengambil keputusan untuk wait and see

"Investor dapat berinvestasi dulu pada instrumen yang rendah risiko seperti reksa dana pasar uang sambil menunggu katalis positif di pasar," tutup Imam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini