Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Menengok Gerak Indeks Saham Jepang dan Nilai Tukar Yen Usai Penembakan Mantan PM Shinzo Abe

 

Indeks saham Jepang dan nilai tukar yen sempat mencatat kenaikan sebelum berita penembakan mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe. Namun indeks acuan saham Jepang maupun nilai tukar yen kemudian mengalami tekanan usai peristiwa penembakan tersebut. 

Diketahui, Shinzo Abe terluka parah dalam penembakan di Nara pada Jumat (8/7/2022). Shinzo Abe dilaporkan tak sadarkan diri setelah ditembak ketika sedang berpidato untuk seorang kandidat partainya.  Menurut laporan NHK, Shinzo Abe tidak menunjukkan tanda-tanda vital ketika dibawa ke rumah sakit.

Dilansir dari CNBC International, Jumat (8/7/2022) saham Nikkei 225 naik 0,56 persen dan indeks Topix naik 0,83 persen. Kedua indeks saham acuan ini naik lebih dari 1 persen di awal sesi, tetapi jatuh setelah laporan tentang Shinzo Abe ditembak selama kampanye.

Mata uang yen terakhir diperdagangkan pada 135,60 per dolar AS. Kemudian dini hari, berada di 135,9 per dolar.

Sementara di kawasan Asia Pasifik, S&P/ASX 200 Australia naik 0,57 persen. Kospi Korea Selatan juga bertambah nilai hingga 0,85 persen, sedangkan Nasdaq 0,83 persen lebih tinggi.

Indeks Hang Seng di Hong Kong berada tepat di atas garis datar. Adapun pasar China yang juga mencatat kenaikan. Shanghai Composite meningkat 0,17 persen, sedangkan Shenzhen Componen naik 0,13 persen.

Tapi kekhawatiran kenaikan harga dan perlambatan ekonomi tetap menghantui negara ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

"Risiko di luar sana, tentu saja, adalah inflasi yang meningkat dan di atas itu, ada juga risiko resesi yang akan datang," kata Chief Investment Officer DBS Hou Wey Fook kepada CNBC Squawk Box Asia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini