Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Penerbitan Obligasi Berpotensi Melambat pada Semester II 2022, Ini Sebabnya

 

- Potensi kenaikan suku bunga acuan berpotensi menekan penerbitan obligasi atau surat utang pada semester II 2022. Namun, emiten akan manfaatkan momentum terbitkan obligasi sebelum kenaikan suku bunga.

Kepala Divisi Pemeringkatan Korporasi Pefindo Niken Indriarsih menuturkan, Pefindo telah mendapatkan mandat untuk peringkat rating sebesar Rp 64,6 triliun tetapi belum listing. Niken menuturkan, mandat penerbitan obligasi Rp 64 triliun tersebut bisa saja ditunda dan dibatalkan pada semester II 2022 seiring emiten melihat kondisi global dan suku bunga.

Namun, Niken menilai ada potensi penerbitan obligasi pada sisa tahun 2022 seiring emiten mengambil kesempatan untuk terbitkan obligasi sebelum kenaikan suku bunga.

"Dari sisi emiten tetap melakukan penerbitan surat utang ambil kesempatan belum ada kenaikan suku bunga. Bisa saja melambat (penerbitan obligasi-red) jika suku bunga naik," kata Niken saat diskusi virtual, Selasa (19/7/2022).

Ia menuturkan, emiten berpotensi menerbitkan obligasi sambil mencermati situasi terkini antara lain kondisi geopolitik dunia, perkembangan ekonomi global dan kemungkinan BI sesuaikan tingkat bunga.

"Menahan diri emiten mungkin melihat lagi suku bunga naik, mempertimbangkan kondisi global," kata dia.

Terkait proyeksi penerbitan obligasi pada 2022, Niken menuturkan, penerbitan obligasi diprediksi antara Rp 102 triliun-Rp 150 triliun. Hingga semester I 2022, penerbitan surat utang mencapai Rp 72,73 miliar dari periode sama tahun sebelumnya Rp 43,36 triliun.

"Kalau dari sisi rentang maksimal Rp 151 triliun sudah hampir 50 persen tercapai. Sedangkan rentang minimal Rp 102 triliun sudah tercapai Rp 70 persen," kata dia.

Di sisi lain, kebutuhanrefinancing surat utang jatuh tempo pada sisa 2022 antara lain kuartal IV Rp 44 triliun dan kuartal IV Rp 47 triliun.

"Masih ada sekitar Rp 91 triliun jatuh tempo pada semester II bisa jadi sebagian akan dilunasi dari arus kas, dari sisi emiten ada kelebihan, refinancing pinjaman lain," kata dia.

Sedangkan dari sisi investor, Niken menilai, investor lebih berhati-hati. Ini dengan selektif memilih investasi dan jenis surat utang diinvestasikan. Selain itu, investor juga dinilai cenderung memilih obligasi jangka pendek.

"Lihat perkembangan dengan kondisi geopolitik, pertumbuhan global, (investor-red) akan lebih selektif memilih instrumen yang sesuai," kata dia.

Berdasarkan mandat yang diterima Pefindo per 30 Juni 2022 berdasarkan surat utang dan belum listing antara lain penawaran umum obligasi baru sebesar Rp 19,55 triliun, sukuk sebesar Rp 16,81 triliun, obligasi sebesar Rp 10,35 triliun, PUB obligasi sebesar Rp 5,05 triliun.

Selain itu, PUB sukuk sebesar Rp 5,25 triliun, MTN sebesar Rp 4,32 triliun dan sekuritisasi sebesar Rp 3,3 triliun.Sedangkan berdasarkan institusi dan belum listing dari BUMN dan anak perusahaan/BUMD sebesar Rp 33,91 triliun dan Non BUMN sebesar Rp 30,73 triliun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)