Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Kelompok Ransomware BlackCat Klaim Berhasil Retas Bandai Namco

 

Sebuah kelompok ransomware mengklaim telah berhasil meretas raksasa video game Bandai Namco. Namun, belum ada pernyataan resmi dari perusahaan asal Jepang itu terkait kabar ini.

Kelompok ransomware tersebut bernama ALPHV, atau juga dikenal dengan nama BlackCat. Laporan peretasan pertama kali diungkap oleh dua grup pengawas malware.

Dikutip dari PC Gamer, Rabu (13/7/2022), kabar ini awalnya diungkap oleh Vx-underground, yang menyertakan gambar dari blog darkweb ALPHV yang mengklaim serangan tersebut.

"Kelompok ransomware ALPHV (dikenal juga sebagai kelompok ransomware BlackCat) mengklaim sudah menuntut tebusan Bandai Namco," tulis Twitter Vx-underground.

Dalam keterangannya, dituliskan juga bahwa Bandai Namco adalah penerbit video game internasional, dengan beberapa judul di antaranya sepeti Ace Combat, Dark Souls, Dragon Ball, Soul Calibur, dan lain-lain.

\

Sebuah kelompok ransomware mengklaim telah berhasil meretas raksasa video game Bandai Namco. Namun, belum ada pernyataan resmi dari perusahaan asal Jepang itu terkait kabar ini.

Kelompok ransomware tersebut bernama ALPHV, atau juga dikenal dengan nama BlackCat. Laporan peretasan pertama kali diungkap oleh dua grup pengawas malware.

Dikutip dari PC Gamer, Rabu (13/7/2022), kabar ini awalnya diungkap oleh Vx-underground, yang menyertakan gambar dari blog darkweb ALPHV yang mengklaim serangan tersebut.

"Kelompok ransomware ALPHV (dikenal juga sebagai kelompok ransomware BlackCat) mengklaim sudah menuntut tebusan Bandai Namco," tulis Twitter Vx-underground.

Dalam keterangannya, dituliskan juga bahwa Bandai Namco adalah penerbit video game internasional, dengan beberapa judul di antaranya sepeti Ace Combat, Dark Souls, Dragon Ball, Soul Calibur, dan lain-lain.

Belum ada tanggapan dari Bandai Namco soal serangan tersebut, sehingga kabar soal peretasan ini masih harus dikonfirmasi oleh pihak perusahaan.

ALPHV sendiri merupakan target dari FBI. Kepada The Record, mereka juga pernah mengklaim ingin membuat "metaverse ransomware."

Pada 4 Desember 2021, BlackCat juga telah diiklankan di pasar bawah tanah berbahasa Rusia, dan menyebut diri mereka sebagai "generasi berikutnya dari ransomware."

"Tanpa berlebihan, kami percaya bahwa saat ini tidak ada perangkat lunak yang kompetitif di pasar," kata perwakilan ALPHV pada bulan Februari 2022 yang lalu.

Kelompok itu juga baru-baru ini disebut melakukan taktik baru dengan cara mempublikasikan informasi korban peretasan ke situs yang terbuka, sehingga diindeks oleh mesin pencari dan dapat dilihat oleh publik.

Para pelaku kejahatan siber kedapatan melakukan pendekatan yang tidak biasa ketika menjual kunci dekripsi mereka. Berusaha menghindari tangan penegak hukum, pelaku kejahatan menjual kunci dekripsi ransomware mereka di platform game Roblox.

Dengan ini, korban ransomware harus membeli kunci deskripsi di toko game Roblox menggunakan mata uang di dalam game, yakni Robux.

Informasi, Roblox adalah platform game online anak-anak di mana pemainnya dapat membuat game mereka sendiri dan memonetisasinya dengan menjual Game Pass.

Lewat Game Pass, pemain dapat menjual beragam item atau akses khusus dan membelinya menggunakan Roblox. Dalam catatan yang dikirimkan kepada para korban, mereka perlu membeli kartu permainan tertentu, seharga 1700 Robux, atau sekitar USD 20.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini