Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

The Fed Pangkas Suku Bunga: Apa Dampaknya pada Bitcoin?

 

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Amerika Serikat resmi memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Rabu (29/10/2025), menurunkan Federal Funds Rate ke kisaran 3,75%–4%. Namun, analis menilai keputusan ini sudah sepenuhnya “priced in” oleh pasar.

Melansir Cointelegraph Kamis (30/10/2025), menurut Matt Mena, analis pasar dari 21Shares, pemangkasan tersebut sudah diperkirakan luas oleh investor sehingga tidak memicu reaksi signifikan di pasar aset digital.

“November secara historis menjadi bulan yang positif bagi Bitcoin, dengan delapan dari dua belas tahun terakhir mencatatkan rata-rata imbal hasil 46,02%. Kami masih melihat potensi Bitcoin menembus rekor tertingginya sebelum akhir tahun,” kata Mena.

Harga Bitcoin (BTC) sendiri turun sekitar 2,4% ke US$110.466 setelah pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell yang menegaskan adanya perpecahan pandangan di internal FOMC terkait potensi pemangkasan lanjutan pada Desember.

Mengutip data Coinmarketcap per pukul 07.52 WIB, harga Bitcoin di US$110.549 atau turun 1,83% dalam 24 jam terakhir.

“Dissent hawkish dari salah satu presiden The Fed regional menunjukkan bahwa keputusan berikutnya akan semakin sulit dicapai secara konsensus,” ujar Michael Pearce, Deputi Kepala Ekonom AS di Oxford Economics, dikutip dari Cointelegraph.

Para pelaku pasar menilai perbedaan pandangan ini dapat menahan arus likuiditas baru ke aset berisiko, termasuk kripto, yang sebelumnya terdorong oleh ekspektasi pelonggaran moneter agresif.

Berdasarkan data Chicago Mercantile Exchange (CME), sekitar 56% pelaku pasar memperkirakan Fed akan kembali menurunkan suku bunga ke kisaran 3,5%–3,75% pada Desember.

Sebelumnya, sejumlah bank besar seperti Bank of America, Citigroup, dan Goldman Sachs memproyeksikan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga pada 2025.

Meski kebijakan longgar biasanya menjadi katalis positif bagi aset, kali ini sentimen global masih dibayangi ketegangan dagang antara AS dan China, yang membuat investor berhati-hati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

Kasus TaniHub bayangi iklim investasi start-up di Indonesia

RLCO Resmi IPO di BEI, Saham Langsung ARA Naik 34,52%, Hari Ini (9/12) Beli/Jual?