Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Chandra Asri (TPIA) Kantongi Peringkat idAA- dari Pefindo, Prospek Stabil

 

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menetapkan peringkat idAA- untuk PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) beserta obligasi yang masih beredar. Prospek atas peringkat tersebut adalah stabil.

“Peringkat mencerminkan posisi terdepan TPIA dalam industri petrokimia yang didukung oleh sinergi dengan mitra strategis, kegiatan usaha yang terintegrasi secara vertikal, serta likuiditas dan fleksibilitas keuangan yang kuat,” ujar analis Pefindo, Kresna Wiryawan & Ayuningtyas Nur, dalam keterangan resmi, Kamis (2/10).

Namun, peringkat ini dibatasi oleh struktur permodalan dan kebijakan keuangan yang moderat, sensitivitas terhadap siklus industri, serta risiko ekspansi proyek baru.

Pefindo menilai akuisisi Aster Chemicals and Energy Pte Ltd (April 2025), Chevron Philips Singapore Chemicals (Agustus 2025), serta unit condensate splitter (Juni 2025) akan memperkuat integrasi vertikal dan diversifikasi produk TPIA.

Hal ini diproyeksikan berdampak positif terhadap posisi pasar dan margin laba dalam jangka menengah hingga panjang, khususnya setelah aset-aset tersebut beroperasi penuh.

“Tahun 2026 akan menjadi periode kunci bagi TPIA, ketika sejumlah proyek peremajaan selesai dan mulai memberikan margin laba positif,” tulis Pefindo dalam laporannya.

Selama periode ini, TPIA dinilai masih memiliki likuiditas memadai dan fleksibilitas keuangan yang kuat untuk mendanai belanja modal, kebutuhan modal kerja, serta pelunasan utang jatuh tempo.

Pefindo membuka peluang kenaikan peringkat jika TPIA mampu memperkuat manajemen operasional sehingga menghasilkan EBITDA lebih tinggi dari proyeksi dan memperbaiki profil keuangan.

Sebaliknya, peringkat bisa diturunkan bila terjadi pelemahan berkelanjutan pada profil keuangan akibat penurunan margin laba, baik karena kenaikan harga bahan baku maupun penurunan harga produk.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

Kasus TaniHub bayangi iklim investasi start-up di Indonesia

RLCO Resmi IPO di BEI, Saham Langsung ARA Naik 34,52%, Hari Ini (9/12) Beli/Jual?