Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Pandangan Trader Pro atas Flash Crash Bitcoin ke US$112.600: Apa yang Berubah?

 

Harga Bitcoin (BTC) sempat anjlok ke level US$112.600 sebelum kembali menguat ke kisaran US$114.000.

Sebagai informasi, harga Bitcoin berada di US$114.113 atau turun 0,25% dalam 24 jam terakhir merujuk pada data Coinmarketcap pukul 07.40 WIB Rabu (1/10/2025).

Namun, data pasar derivatif menunjukkan bahwa trader profesional masih berhati-hati terhadap potensi risiko penurunan di tengah tekanan makroekonomi global.

Meskipun begitu, arus masuk ke ETF Bitcoin serta akumulasi oleh korporasi besar memberi sinyal optimisme jangka menengah.

Derivatif Tunjukkan Kehati-hatian, Emas Masih Perkasa

Melansir Cointelegraph, indikator skew Bitcoin sempat menyentuh 5% pada Selasa sebelum kembali ke level 8%, yang menunjukkan adanya premi lebih tinggi untuk opsi jual (put). Biasanya, skew BTC berada pada kisaran -6% hingga 6%.

Upaya gagal menembus kembali level US$115.000 membuat sebagian trader frustrasi, terutama karena emas justru terus mencatat tren bullish, hanya 0,6% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa.

Selama dua bulan terakhir, harga emas telah melonjak 16,7%, sementara Indeks Dolar AS (DXY) kesulitan menembus level 98,5.

Hal ini mencerminkan menurunnya kepercayaan terhadap kondisi fiskal AS. Dolar yang lemah memperlambat konsumsi dan menekan penerimaan pajak dari perusahaan multinasional AS

Sinyal Lemah dari Ekonomi AS

Kekhawatiran investor meningkat setelah data pasar tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan 7,23 juta lowongan kerja pada Agustus, mendekati level terendah dalam lima tahun.

Klaim asuransi pengangguran federal pun tercatat dua kali lipat lebih tinggi dibanding tahun lalu.

Namun, indeks S&P 500 justru menunjukkan ketahanan, seiring ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh The Fed.

Neraca The Fed yang stabil di September setelah 30 bulan penurunan memberi sinyal potensi pembalikan arah, yang bisa menopang pasar berisiko.

Opsi BTC Tak Menunjukkan Lonjakan Bearish

Meski ada tanda kehati-hatian, data opsi menunjukkan trader tidak serta-merta menjadi bearish.

Rasio put-to-call Bitcoin tetap stabil, tanpa lonjakan permintaan untuk strategi bearish. Premi opsi jual masih tertinggal dibanding opsi beli, menandakan strategi netral hingga bullish lebih diminati.

Selain itu, arus masuk sebesar US$518 juta ke ETF Bitcoin spot pada Senin menjadi bukti jelas adanya permintaan sebagai aset lindung nilai independen.

Perusahaan publik seperti MicroStrategy (MSTR), MARA Holdings (MARA), dan Metaplanet (MTPLF) terus menambah kepemilikan BTC sebagai strategi cadangan, yang berpotensi menciptakan efek kelangkaan pasokan.

Minimnya permintaan proteksi risiko di pasar opsi lebih mencerminkan kekhawatiran makroekonomi secara luas ketimbang pandangan bearish terhadap Bitcoin.

Dengan dukungan ETF dan akumulasi institusional, sentimen jangka panjang terhadap BTC tetap terjaga meski volatilitas jangka pendek masih membayangi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

Kasus TaniHub bayangi iklim investasi start-up di Indonesia

RLCO Resmi IPO di BEI, Saham Langsung ARA Naik 34,52%, Hari Ini (9/12) Beli/Jual?