Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Pengguna Twitter Diprediksi Mandek di 2021

 

Media sosial Twitter disebut alami pertumbuhan pengguna yang melambat semenjak awal tahun 2021. Perlambatan itu diprediksi akan terjadi hingga dua digit pada kuartal dua 2021.

Twitter sempat mengalami pendapatan rekor mencapai US$1,29 miliar atau sekitar Rp18,1 triliun, meningkat 28 persen dari tahun ke tahun.

Mengutip Reuters, saham Twitter meningkat hampir 3 persen dalam bursa perdagangan harian dan dilaporkan naik sebesar 62 persen dalam setahun terakhir. Ini menjadi capaian tertingginya sejak 2014 lalu.

 

Namun Twitter mengakui pengeluarannya akan naik 25 persen di tahun 2021 tetapi pihaknya mengklaim pendapatannya akan lebih besar dari biaya operasional perusahaan.

Twitter menjadi sorotan di tengah perbincangan politik global, usai mengambil kebijakan dalam kisruh yang terjadi di Amerika Serikat (AS), dengan memblokir akun resmi Donald Trump.

Twitter baru-baru ini juga telah membangkang aturan pemerintah India yang menyarankan untuk blokir akun pemerotes agraria di negaranya. CEO Twitter Jack Dorsey berpendapat kehadiran Trump di Twitter tidak berdampak signifikan terhadap pertumbuhan pengguna.

"Kami adalah platform yang jauh lebih besar daripada akun tersebut. 80 persen pengguna kami berada di luar Amerika Serikat," ujarnya seperti dikutip Reuters Rabu (10/2).

Justru, menurutnya, pengguna aktif harian Twitter diprediksi akan meningkat 20 persen imbas pelarangan Trump mengakses Twitter.

Menurut analis senior Neuberger Berman, Hari Srinivasan, investor perusahaan tersebut melihat naiknya pertumbuhan pengguna di tahun 2020, berdasarkan pemasukan iklan yang tinggi, profitabilitas dan target revenue yang maksimal.

Mengutip Bloomberg, pada kuartal keempat lalu, Twitter memiliki 192 juta pengguna aktif harian yang dapat dimonetisasi. Angka tersebut diklaim oleh Srinivasan hanya naik 26 persen dari tahun sebelumnya.

Twitter mengaku, pertumbuhan pengguna telah didorong oleh peningkatan produk yang menyediakan fitur pembahasan dari peristiwa Covid-19 dan pemilihan umum di AS.

Lebih lanjut Twitter menjelaskan, pihaknya mendapatkan profit dari pengiklan sebanyak US$1,15, atau naik sekitar 31 persen dari periode yang diprediksi oleh analis. Tentunya klaim ini mengalahkan hitungan pendapatan perusahaan media sosial tersebut.

Dalam periode terakhir, Twitter menambahkan 1 juta pengguna baru di AS, dan sekarang memiliki rata-rata 37 juta pengguna harian di pasaran. 

Perusahaan yang berbasis di San Francisco itu, kini tengah menjajaki layanan berlangganan untuk menambah aliran pendapatan selain dari iklan. Beberapa tim riset internal sedang meneliti produk langganan seperti apa yang menjadi pembeda. Namun, pihaknya mengaku inisiatif itu terlalu jauh.

Twitter baru-baru ini dikabarkan telah mengakuisisi perusahaan start-up bernama Revue. Start up itu memiliki platform media sosial berbasis audio seperti Clubhouse. Direncanakan akan rilis di kuartal 4 mendatang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025