Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Komite Nobel Serukan Pembebasan Suu Kyi yang Dikudeta Militer

 

Komite Nobel Norwegia menyerukan pembebasan segera pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi yang ditahan selama kudeta militer pada Senin (1/2).

 

"Komite Nobel Norwegia terkejut dengan kudeta militer di Myanmar dan penangkapan peraih Hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi, Presiden Win Myint, dan para pemimpin politik lainnya," tulis komite tersebut.

Suu Kyi dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada 1991 sebagai pengakuan atas perjuangannya untuk demokrasi di Myanmar dan menjadi tokoh terkemuka dalam mengembangkan demokrasi.

"Sekarang, 30 tahun setelah dia dianugerahi Penghargaan Perdamaian, militer sekali lagi mengesampingkan demokrasi dan menangkap perwakilan terkemuka dari pemerintah yang dipilih secara sah," tulis Komite Nobel dalam sebuah pernyataan.

"Komite Nobel Norwegia meminta pembebasan segera Aung San Suu Kyi dan politisi lain yang ditangkap, dan agar hasil pemilihan umum tahun lalu dihormati."

Pada tahun 2018, Nobel Perdamaian yang diterima Suu Kyi disebut-sebut akan dicabut. Hal itu terkait sikapnya atas perlakuan terhadap etnis Rohingya.

Tim pencari fakta independen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut tentara Myanmar melakukan pemerkosaan dan pembantaian terhadap etnis Rohingya. Di tahun itu, dirinya tengah memimpin Myanmar dan menuai banyak kecaman lantaran tidak bersikap tegas atas tindakan para tentara.

Namun Panitia Nobel Norwegia memastikan penghargaan yang pernah diberikan kepada Suu Kyi tidak akan dicabut.

"Hadiah Nobel Perdamaian untuk Aung San Suu Kyi tidak akan ditarik menyusul adanya laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyatakan tentara Myanmar terbukti membantai suku Rohingya," kata Panitia Nobel Norwegia.

Tak hanya itu, gelar Duta Hati Nurani yang diberikan oleh Amnesty Internasional pada tahun 2009 juga dicabut. Alasanya tak jauh berbeda; pembiaran pembantaian massal oleh militer.

"Hari ini kami cemas bahwa anda (Suu Kyi) tidak lagi mewakili simbol harapan, keberanian dan pembela HAM," kata Kepala Amnesti Internasional Kumi Naidoo, dikutip dariAFP, pada Senin 12 November.

Kudeta militer Myanmar mengakhiri satu dekade transisi dari pemerintahan militer ke demokratis.

dalam penggerebekan pada Senin (1/2) dini hari oleh junta militer.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025