Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Facebook Blokir Konten Berita di Australia

 

Facebook mengumumkan pada Rabu (17/2) tidak lagi menyediakan konten berita di Australia yang berasal dari media lokal ataupun internasional. Pengumuman ini merespons rancangan undang-undang baru di Australia yang bakal memaksa platform teknologi membayar royalti ke penerbit berita atas konten pemberitaan yang ditayangkan.

 

"Apa yang tidak dikenali usulan undang-undang di Australia yakni sifat fundamental dari hubungan antara platform kami dengan penerbit," kata wakil presiden Facebook untuk kerja sama pemberitaan global, Campbell Brown, dalam unggahan blog dilansir dari CNN.

Menurut Brown, Facebook tidak mencuri konten berita. Penerbit yang dikatakan justru memilih Facebook untuk membagikan cerita mereka.

Facebook disebut menghadapi pilihan sulit antara mematuhi usulan undang-undang atau melarang konten berita pada layanannya di Australia. Namun dengan berat hati mereka memilih untuk menyetop layanan tersebut.

Selama sidang rancangan undang-undang yang digelar sejak Januari oleh senat Australia, Facebook sudah menjelaskan bisa memblokir konten berita jika itu disahkan. Google dalam sidang itu juga mengancam menutup mesin pencarinya dari Australia jika rancangan undang-undang mendapat lampu hijau.

Namun sebelum Facebook mengumumkan sikapnya memberhentikan berita, Google diketahui telah bergerak mendekati penerbit di Australia untuk memperdalam hubungan mereka.

Google dan kantor berita News Corp (NWS) yang dimiliki konglomerat Rupert Murdoch sudah mengumumkan kontrak selama tiga tahun. Google bakal membayar izin atas konten News Corp yang meliputi Wall Street Journal dan New York Post.

Pertarungan antara penerbit dan platform teknologi telah berlangsung selama bertahun-tahun. Masalah ini semakin menekan platform teknologi setelah pemerintah di Amerika Serikat, Australia, dan lainnya mulai serius menanggapinya.

News Corp CEO Robert Thomson berterima kasih pada CEO Google Sundar Pichai atas komitmen pada jurnalistik yang akan bergaung di Australia. Dia juga menganggap hal ini adalah kemenangan besar perusahaan pada platform teknologi.

"Ini telah menjadi alasan yang kuat bagi perusahaan kami selama lebih dari satu dekade dan saya bersyukur bahwa syarat pertukaran telah berubah, tidak hanya untuk News Corp, tetapi untuk semua penerbit," ucap Thomson.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025