Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Mengenal Satelit Telkom-3 Diperkirakan Jatuh di Mongolia

 

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) melaporkan satelit Telkom-3 akan jatuh ke Bumi setelah beberapa tahun berada di luar angkasa. Perkiraan terakhir menyebut satelit itu tersebut akan jatuh di sekitar Mongolia atau China bagian utara.

 

Satelit Telkom-3 adalah satelit milik PT Telkom Indonesia yang dibuat oleh perusahaan penyedia satelit Rusia bernama ISS-Reshetnev. Satelit itu sempat dilaporkan hilang setelah gagal mengorbit.

Satelit Telkom-3 diluncurkan pada tanggal 6 Agustus 2012 dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan, tetapi gagal mencapai orbit karena masalah teknis.

Melansir Nasa Spaceflight, satelit Telkom-3 dibangun oleh ISS-Reshetnev dengan peralatan komunikasinya buatan Thales Aleniaspace. Satelit Telkom-3 dirancang untuk memenuhi permintaan transponder yang terus meningkat dalam pengembangan layanan bisnis satelit di Indonesia.

Telkom Group dilaporkan telah menginvestasikan dana sebanyak US$200 juta atau Rp2,8 triliun (kurs Rp14.0052) untuk proyek satelit Telkom-3.

Presiden Direktur Telkom kala itu, Rinaldi Firmansyah menyatakan satelit Telkom-3 bukan hanya untuk tujuan komersial dan peningkatan kualitas infrastrukutr di Indonesia. Satelit itu juga dibangun untuk mendukung kerja militer dalam pertahanan dan keamanan.

Satelit Telkom-3 memiliki kapasitas 42 transponder aktif, terdiri dari 24 transponder pada Standar C-band 36MHz, 8 transponder pada 54 MHz C-band, 4 transponder pada 36 MHz, dan 6 transponder pada 54 MHz Ku-Band.

Satelit Telkom-3 adalah satelit pertama buatan Rusia yang dibeli oleh Indonesia. Indonesia sebelumnya sudah memiliki satelit Telkom-2 yang diluncurkan oleh roket Ariane 5 milik Badan Antariksa Eropa pada tahun 2005.

Melansir Space Sky Rocket, satelit Telkom-3 dibangun berdasarkan platform satelit kelas menengah Ekspress-1000N. Satelit itu rencananya bertugas selama 15 tahun.

Kegagalan mengorbit

Satelit Telkom-3 dilaporkan gagal mengorbit setelah roket Proton-M milik pemerintah Rusia yang membawa satelit itu mengalami kendala teknis. Saat itu, Proton-M juga membawa satelit lain, yakni Ekspress-MD2.

Satelit Telkom-3 semula direncanakan mengrobit di orbit geostasioner. Satelit Telkom 3 memiliki bobot 1.845 kg.

Menurut LAPAN, satelit Telkom-3 mengitari Bumi setelah gagal mengorbit dengan orbit eksentrik, yakni dengan ketinggian maksimum (apogee) 5015 km dan ketinggian minimum (perigee) 267 km serta inklinasi 49,916 derajat.

Sejak tanggal 6 Agustus 2012 pukul 23 UT, Satelit Telkom 3 tercatat dalam katalog NORAD dengan nomor identifikasi 38744 serta pada katalog COSPAR dengan nomor identifikasi 2012-044A.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025