Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Mengenal Satelit Telkom-3 Diperkirakan Jatuh di Mongolia

 

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) melaporkan satelit Telkom-3 akan jatuh ke Bumi setelah beberapa tahun berada di luar angkasa. Perkiraan terakhir menyebut satelit itu tersebut akan jatuh di sekitar Mongolia atau China bagian utara.

 

Satelit Telkom-3 adalah satelit milik PT Telkom Indonesia yang dibuat oleh perusahaan penyedia satelit Rusia bernama ISS-Reshetnev. Satelit itu sempat dilaporkan hilang setelah gagal mengorbit.

Satelit Telkom-3 diluncurkan pada tanggal 6 Agustus 2012 dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan, tetapi gagal mencapai orbit karena masalah teknis.

Melansir Nasa Spaceflight, satelit Telkom-3 dibangun oleh ISS-Reshetnev dengan peralatan komunikasinya buatan Thales Aleniaspace. Satelit Telkom-3 dirancang untuk memenuhi permintaan transponder yang terus meningkat dalam pengembangan layanan bisnis satelit di Indonesia.

Telkom Group dilaporkan telah menginvestasikan dana sebanyak US$200 juta atau Rp2,8 triliun (kurs Rp14.0052) untuk proyek satelit Telkom-3.

Presiden Direktur Telkom kala itu, Rinaldi Firmansyah menyatakan satelit Telkom-3 bukan hanya untuk tujuan komersial dan peningkatan kualitas infrastrukutr di Indonesia. Satelit itu juga dibangun untuk mendukung kerja militer dalam pertahanan dan keamanan.

Satelit Telkom-3 memiliki kapasitas 42 transponder aktif, terdiri dari 24 transponder pada Standar C-band 36MHz, 8 transponder pada 54 MHz C-band, 4 transponder pada 36 MHz, dan 6 transponder pada 54 MHz Ku-Band.

Satelit Telkom-3 adalah satelit pertama buatan Rusia yang dibeli oleh Indonesia. Indonesia sebelumnya sudah memiliki satelit Telkom-2 yang diluncurkan oleh roket Ariane 5 milik Badan Antariksa Eropa pada tahun 2005.

Melansir Space Sky Rocket, satelit Telkom-3 dibangun berdasarkan platform satelit kelas menengah Ekspress-1000N. Satelit itu rencananya bertugas selama 15 tahun.

Kegagalan mengorbit

Satelit Telkom-3 dilaporkan gagal mengorbit setelah roket Proton-M milik pemerintah Rusia yang membawa satelit itu mengalami kendala teknis. Saat itu, Proton-M juga membawa satelit lain, yakni Ekspress-MD2.

Satelit Telkom-3 semula direncanakan mengrobit di orbit geostasioner. Satelit Telkom 3 memiliki bobot 1.845 kg.

Menurut LAPAN, satelit Telkom-3 mengitari Bumi setelah gagal mengorbit dengan orbit eksentrik, yakni dengan ketinggian maksimum (apogee) 5015 km dan ketinggian minimum (perigee) 267 km serta inklinasi 49,916 derajat.

Sejak tanggal 6 Agustus 2012 pukul 23 UT, Satelit Telkom 3 tercatat dalam katalog NORAD dengan nomor identifikasi 38744 serta pada katalog COSPAR dengan nomor identifikasi 2012-044A.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini