Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Anak Usaha Unggul Indah Cahaya Bakal Bangun Apartemen dan Perkantoran pada 2023

 


Emiten produsen bahan kimia, PT Unggul Indah Cahaya Tbk (UNIC) memiliki anak usaha yang bergerak di bidang properti, yaitu PT Wiranusa Grahatama (WG) yang telah mengembangkan komplek Pearl Garden Resort Apartemen di Jalan Gatot Subroto. 

Di lokasi yang sama WG juga akan mengembangkan usaha propertinya membangun komplek apartemen dan perkantoran. Presiden Direktur Unggul Indah Cahaya Yani Alifen mengatakan, pihaknya akan membangun proyek apartemen dan perkantoran di Jalan Gatot Subroto, Jakarta. 

"Saat ini progresnya perencanaan, karena ada beberapa perencanaan yang kita sesuaikan dengan peraturan pemerintah dan direncanakan pada 2023, insyaallah bisa mulai membangun dan perkiraan itu memakan waktu 4-5 tahun secara keseluruhan," kata Yani dalam paparan publik UNIC, Rabu (21/12/2022).

Yani berharap, proyek apartemen dan perkantoran anak usaha UNIC bisa dimulai pada tahun depan.

Sementara itu, hingga 30 September 2022, Perseroan mencatat nilai penjualan konsolidasian sebesar USD 318,06 juta atau sekitar Rp 4,95 triliun (asumsi kurs Rp 15.591 per dolar AS) mengalami peningkatan sebesar 15,56 persen atau USD 42,83 juta dibandingkan dengan penjualan konsolidasi pada periode yang sama pada 2021 yang tercatat sebesar USD 275,23 juta. 

Peningkatan nilai penjualan konsolidasian ini dikarenakan kenaikan rata-rata harga jual produk pada 2022 yang merupakan dampak dari tren kenaikan harga minyak mentah dunia.

Perseroan mencatat laba bruto konsolidasian sebesar USD 64,55 juta hingga kuartal III 2022, mengalami penurunan 9,41 persen atau USD 6,70 juta dibandingkan laba bruto konsolidasian per 30 September 2021 yang tercatat sebesar USD 71,25 juta.

Margin laba bruto Perseroan pada periode sembilan bulan 2022 dan 2021 masing-masing tercatat sebesar 20,29 persen dan 25,89 persen. Penurunan laba maupun margin laba brutoPerseroan terutama didorong oleh harga minyak mentah dunia yang menunjukan down trend sejak pertengahan 2022 sehingga Perseroan juga perlu mengikuti harga pasar.

Laba sebelum beban pajak penghasilan hingga 30 September 2022 tercatat sebesar USD 45,37 juta, sedangkan untuk periode yang sama pada 2021 tercatat sebesar USD 55,12 juta, mengalami penurunan sebesar USD 9,75 juta atau 17,69 persen. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini